Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Di ILC, Sudjiwo Tedjo Bongkar Karakter Asli Ustadz Tengku Zulkarnain

Seniman Sudjiwo Tedjo membongkar karater asli Ustadz Tengku Zulkarnain hingga tampak seluruh penonton terdiam.

Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
Youtube
di ILC Sudjiwo Redjo Bongkar Karakter asli Ustaz Tengku Zulkarnain 

TRIBUNJATENG.COM- Seniman Sudjiwo Tedjo membongkar karater asli Ustadz Tengku Zulkarnain hingga tampak seluruh penonton terdiam.

TribunJateng.com, melihat melalui akun Youtube Indonesia Lawyers Club yang diunggah pada Selasa (27/11/18).

Mulanya, SUdjiwo Tedjo mengaku kebingunggan dihadirkan dalam forum tersebut lantaran hanya dirinya yang berprofesi sebagai seniman sementara narasumber yang lain adalah seorang ustadz. (KBBI: Ustaz)

Sudjiwo lantas mengatakan ada beberapa kategori penceramah.

Link Pengumuman Hasil SKD CPNS 2018 Kementerian BUMN , 220 Peserta Lolos, Segera Cek Nama Anda

Link Pengumuman Hasil SKD CPNS 2018 Kemenkumham, Segera Cek Nama Anda

"Ada Khatib yang tenang, adapula Khatib yang tidak tenang, padahal keduanya ini berbeda, yang satunya tenang apa banyak sistem konflik lahan tapi nggak dilawan, tapi banyak para pendengar yang senang, makanya banyak temanku yang mengurusi konflik lahan, adapula yang ustaz keras padahal baik, hati-hati kita lihat radikalisme sama enggak, jangan-jangan semua itu radikal," ujarnya.

Sudjiwo Tedjo lantas mengatakan memberikan analogi terkiat gerakan radikalisme.

"Ceramah Khatib yang satu menenangkan tapi banyak orang miskin, yang satu khatib yang bikin nggak tenang karena harus ada yang diperjuangkan, melawan kemiskinan," ujar Sudjiwo Tedjo.

Mendengar pernyataan itu, Ustaz Tengku Zulkarnain, Ali Ngabalin hingga seluruh peserta tampak fokus mendengarkan.

Tampak para ustaz yang hadir di tempat tersebut sepakat dengan pernyataan Sudjiwo Tedjo.

Setelah itu, Sudjiwo Tedjo mengaris bawahi pernyataan Agus Muhammad.

Peruntungan Shio Hari Ini Rabu 28 November, Tahun Anjing Tanah Imlek 2659

Anniversary Ke-12, RAN Temui Para Fans di Beberapa Kota Termasuk Semarang

Edy Rahmayadi Klaim PSSI Sanggup Bayar Gaji Luis Milla Rp 30 Miliar per Tahun

Edy rahmayadi: Kami Sudah Berusaha Panggil Luis Milla namun Luis Milla Tidak Bisa Hadir

"Penelitian ini antara benar juga enggak, nggak benar juga nggak, atapi itu tidak dikutip wartawan, iya kan?" ujar Sudjiwo Tedjo yang disambut anggukan oleh Agus Muhammad.

Setelah itu, Sujdiwo Tedjo membongkar karakter Ustaz Tengku Zulkarnain bahwa sosok Ustaz Tengku Zulkarnain adalah orang yang lemah lembut dan pecinta seni.

"Saya melihat Ustaz Tengku Zulkarnian kayaknya begitu, tapi di awal ada musik, beliau main piano ternyata bisa, beliau juga bisa nembang juga, bisa tenang kan, tapi kalau di pers itu kok garang, padahal kenyataannya enggak," ujar Sudjiwo Tedjo.

Lantas Sudjiwo Tedjo mengkritik pers.

"Di dalam tubuh negara, ada segumpal profesi kalau profesinya baik, baiklah semuanya, segumpal profesi itu termasuk timnasnya, termasuk wartawan," ujar Sudjiwo Tedjo.

Sudjiwo Tedjo mengaku bahwa dirinya kerap bercanda dengan UStadz Zulkarnain, Ustadz Haikal dan Ali Ngabalin.

"Saya sering bercanda  dengan UStadz Zulkarnain, Ustadz Haikal dan Ali Ngabalin, tapi kalau saya lihat di pers kok kayak orang nggak mau sama apa-apa gitu lho," ujarnya.

Diketahui sebelumnya, Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara ( BIN) Wawan Hari Purwanto mengungkapkan, temuan soal 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terpapar radikalisme didapat dari hasil survei oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama.

Temuan tersebut diungkapkan Kasubdit di Direktorat 83 BIN, Arief Tugiman, dalam diskusi terkait peran ormas Islam dalam NKRI, di kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Jakarta, beberapa waktu silam.

Wawan menuturkan, hasil survei tersebut kemudian didalami lebih lanjut oleh BIN.

"Survei dilakukan oleh P3M NU, yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN," kata Wawan, saat ditemui di Restoran Sate Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2018).

Kategori radikalisme tersebut, lanjut dia, dilihat dari konten yang dibawakan penceramah di masjid tersebut.

Ia menuturkan, terdapat sekitar 50 penceramah dengan konten yang menjurus radikalisme.

"Jadi, konten ceramahnya yang kita utamakan, karena itu kan setahun sudah ada daftar penceramahnya, kalau masjidnya sih enggak ada yang radikal, tapi penceramahnya," ucapnya yang dilansir dari Kompas.com.

Debat Panas Rian Ernest dengan Faldo Maldini soal Pidato Prabowo

Ruhut Sitompul Debat Panas dengan Andre Rosiade soal Curhatan Jokowi dan Prabowo

Ketika Inul Daratista Dipeluk dan Bersandar Manja di Bahu Jonathan Christie, Seperti Adik Kakak

Dia menuturkan, keberadaan masjid di lingkungan pemerintah seharusnya steril dari hal-hal yang berbau radikal. Hal tersebut merupakan salah satu upaya BIN menjaga persatuan di Indonesia.

Ke depannya, BIN berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pemberdayaan agar tercipta ceramah yang lebih sejuk. "Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan," ujar dia. "Selanjutnya dilakukan pemberdayaan Da'i untuk dapat memberikan ceramah yang menyejukkan dan mengkonter paham radikal di masyarakat," sambung dia.

Tanggapan Jusuf Kalla

di ILC, Jusuf Kalla mengaku prihatin dengan hasil survei tersebut.

"Kalau membaca secara sederhana, ini studi yang sangat memprihatinkan. Kalau orang menyimpulkan sederhana, dia bisa mengatakan 41 masjid pemerintah radikal. Wah itu bahaya. Masjid pemerintah saja radikal apalagi di tempat lain," ujar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla mengatakan studi tersebut belum matang dan perlu ditelusuri kembali.

Jadi cara studinya mungkin kaidah-kaidahnya studinya perlu ditelaah kembali. tidak seperti itu. karena, apalagi saya mendengar tadi ada radikal yang ringan, berat, pertama kali saya dengar istilah-istilah itu.

Ya kalau radikal ya radikal, enggak ada ringan bertanya."

"Kemudian saya ingin jelaskan, kita harus hati-hati, jangan-jangan khotibnya mengerti, dalam rangka amar ma'ruf nahi mungkar di tulis radikal. Jangan disamakan pula, ini sama dengan survei pemilu. Dengan seribu orang mengatasnamakan sejuta orang.

Kalau seratus masjid bisa mengatasnamakan semua mesjid, ini sangat prihatin."

"Tentu soal radikal, ya dalam konteks apa? mudah-mudahan ini hanya diskusi saja. pertama kali itu saya dengar kata terpapar (radikalisme)," ujar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Umum pengurus pusat Dewan Masjid Indonesia (DWI) tidak setuju dengan pengambilan sample isi khotbah atau ceramah.

"Supaya diketahui, bahwa masjid itu, ada 34 ceramah perbulan. Karena umumnya masjid itu, habis dhuhur, ada kultum atau ceramah, Jumat tentu ada, jadi banyak sekali bukan hanya 4 kali saja sebulan.

Masjid itu tidak radikal, yang dianggap berbicara keras itu diundang dari luar, bukan khatibnya masjid situ. Karena itulah maka, kalau anda buka data, lengkap siapa khatib yang mengisi."

Jusuf Kalla menuturkan ia telah membaca hasil survei dan mengaku tidak paham mengapa kantor masjid di kantor Menko menjadi masjid yangpaling di katakan radikal.

HOTLINE : Banyak Lubang di Jalan Petolongan

Prakiraan Cuaca BMKG Tegal Raya, Siang Nanti Diguyur Hujan Ringan

Longsor di Purwakarta, Ayah dan Anak Tertimbun, Dua Orang Lagi Belum Ditemukan

"Jangan kita salah pengertian, dan itu berbahaya sekali, dan saya baca laporannya, yang radikal berat, justru kantor Menko, justru ingin membina bangsa ternyata radikal.

Waduh, hati-hatilah membuat studi seperti itu. berbahaya untuk kita pahami."

Jusuf Kalla kemudian menuturkan dewan masjid seusai mendengar studi survei yang mengatakan 41 masjid terpapar radikalisme, dewan masjid tidak begitu menanggapi secara serius dalam rapat besar.

Namun akan tetap memeriksa dan memfollow up hasil temuan tersebut. (TribunJateng.com/Woro Seto)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved