Nonton Pertunjukan Wayang Kulit Membuat Parno Bernostalgia saat Masih Kecil

Hal itu mampu mengingatkan masa mudanya dahulu, ketika diajak oleh sang ayah pergi menonton wayang.

Nonton Pertunjukan Wayang Kulit Membuat Parno Bernostalgia saat Masih Kecil
Tribun Jateng/ Faizal M Affan
Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sri Puryono (baju batik garuda), menerima hadiah wayang kulit dari dalang Ki Warseno Slenk (baju biru) sebelum wayang kulit lakon Karno Tandhing tampil di halaman RRI Semarang, Jumat (30/11/2018) malam.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faizal M Affan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Saat melintas di Jalan Ahmad Yani Semarang pada Jumat (30/11/2018) malam, Suparno (60), berhenti sejenak melihat keramaian yang ada di halaman kantor RRI Semarang.

Karena mendengar adanya suara pementasan wayang, lantas dirinya memasuki halaman parkir dan memarkirkan kendaraanya.

Parno panggilannya, mengatakan suka melihat pagelaran wayang. Hal itu mampu mengingatkan masa mudanya dahulu, ketika diajak oleh sang ayah pergi menonton wayang. Baginya, wayang adalah hiburan yang mendidik.

"Sekarang jarang ada seperti ini. Padahal wayang itu bagus dan mendidik. Tidak seperti TV yang tayangannya tidak jelas. Menonton wayang juga membuat saya teringat sosok ayah," tuturnya.

Tak hanya masyarakat umum, pagelaran wayang kulit ini juga dihadiri oleh beberapa pejabat, termasuk Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono, yang juga diberi kesempatan untuk memberikan sambutan ketika sebelum pagelaran wayang dimulai.

"Ini adalah pertunjukkan budaya yang perlu kita lestarikan. Wayang tidak hanya memberikan tontonan, tetapi juga tuntunan sebagai pedoman hidup manusia," paparnya di atas panggung.

Koordinator Pagelaran Wayang Kulit RRI Semarang, Setyawan Jayadi ketika ditemui di sela-sela acara, mengatakan pagelaran wayang ini merupakan agenda rutin setiap empat bulan sekali. Selain itu, ini menjadi tahun keempat bagi RRI Semarang untuk menyelenggarakan pagelaran wayang.

Pagelaran wayang Jumat malam bersama Ki Warsena Slenk yang membawa cerita Karno Tandhing, merupakan agenda siaran berjaringan Korwil XI RRI, yang meliputi RRI Semarang, RRI Surakarta, RRI Purwokerto, dan RRI Yogyakarta.

"Sedangkan kami mendapat jatah giliran menyelenggarakan pagelaran wayang kulit setiap empat bulan sekali," bebernya.

Iwan panggilannya, menjelaskan tujuan diadakan pagelaran wayang kulit ini yakni untuk melestarikan budaya warisan leluhur, mengenalkan dan menanamkan rasa cinta terhadap kesenian wayang pada generasi muda, dan memberikan hiburan yang sehat dan mengandung ajaran kehidupan.

Maka dari itu, setidaknya wayang menjadi satu di antara hiburan yang merakyat namun tetap mendidik.

"Kalau tidak ada pagelaran seperti ini, wayang kulit akan tergerus oleh zaman. Alangkah baiknya kita sebagai generasi penerus, bisa mempertahankan hiburan rakyat ini supaya tidak hilang. Walaupun tentu sudah kalah dengan hiburan lain yang lebih disukai anak muda," terangnya.

Cerita Karno Tanding yang dibawakan oleh Ki Warseno Slenk, mengisahkan pertempuran dua saudara kandung berlainan ayah yang mempunyai kepandaian dan kesaktian yang seimbang.(afn)

Penulis: faisal affan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved