Opini

Opini Tasroh : Waspadai Predator Kekejaman Sosial

PAKAR Sosiologi Jepang, Yoshi Hanna dalam Social Satanic (2011), menyebutkan bahwa hadirnya era digital memicu percepatan kekejaman sosial

Opini Tasroh : Waspadai Predator Kekejaman Sosial
tribunjateng/cetak
Koar-koar Mahar. Opini ditulis oleh Tasroh, S.S.MPA,.MSc/Pegiat Banyumas Policy Watch dan Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan) 

Oleh Tasroh, S.S,. MPA,.MSc
Pegiat Banyumas Policy Watch dan Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan

PAKAR Sosiologi Jepang, Yoshi Hanna dalam Social Satanic (2011), menyebutkan bahwa hadirnya era digital memicu percepatan kekejaman sosial jika masyarakat tidak cerdas mempersiapkan diri.

Salah satunya adalah berkembangnya sikap dan perilalu emosional tanpa kendali hanya gara-gara urusan sepele dan remeh temeh. Konon mengklaim sebagai komunitas sopan nan religius, namun merespon masalah sepele pun bisa memicu pertikaian fisik bahkan hingga dendam saling bunuh.

Fenomena ini belakangan marak di Indonesia, bahkan di sekitar kita. Predator kekejaman sosial berupa pembunuhan antar anggota keluarga seperti di terjadi di Bekasi dimana sebut Andi (27) yang sehari-harinya dikenal sopan dan taat beribadah dalam sekejap bak kesetanan dengan membantai seluruh keluarga dalam waktu kurang dari 1 jam hingga aksi kekejaman lainnya dengan membuang mayat manusia bak membuang bangkai kucing.

Makasepanjang2018 kasus-kasus pembunuhan seolah tak lekang dimakan waktu. Dari hasil analisis pihak kepolisian terungkap bahwa motif ratusan kasus pembunuhan ternyata lebih banyak didasari masalah sepele, yakni sakit hati, ketersinggungan, dan dendam. Tentu ini harus menjadi perhatian kita bersama agar jumlah kasus pembunuhan bisa terus ditekan.

Data Mabes Polri menyebut sampai Oktober 2018 telah terjadi 625 kasus pembunuhan. Dari jumlah tersebut, 92% atau 574 kasus berhasil diungkap. Yang memprihatinkan adalah hampir 80% motif pembunuhan baik dilakukan secara berkelompok, melalui pembunuh bayaran maupun perseorangan dipicu oleh rasa dendam, ketersinggungan, dan sakit hati. Sisanya, 20%, tidak diketahui motifnya karena antara pelaku dan korban tidak saling kenal seperti kasus perampokan.

Dari total kejadian, memang terjadi tren penurunan jumlah daripada tahun-tahun sebelumnya. Misalnya pada 2017 total kasus pembunuhan mencapai 783 kasus dan terungkap 99% atau 773 kasus. Adapun pada 2016 sebanyak 1.197 kasus. Dari jumlah tersebut terungkap 1.156 kasus atau 97%. Meski angkanya menurun, secara total kasus pembunuhan tahun ini masih sangat tinggi jumlahnya. Apakah kasus pembunuhan tersebut bisa dicegah atau diantisipasi? Untuk menjawab ini tentu kita harus melihat motifnya.

Pembunuhan dengan motif sakit hati sulit untuk dicegah. Karena terjadi secara spontan dan sulit diprediksi. Berbeda dengan kasus perampokan yang bisa diantisipasi dengan penjagaan atau imbauan untuk tidak menggunakan perhiasan secara berlebihan. Meski begitu, bagaimanapun caranya, kita harus terus berupaya untuk mencari solusi dari maraknya pembunuhan yang terjadi di masyarakat, komunitas kita.
Upaya di atas tentu tidak mudah karena faktor-faktor yang melatarbelakangi begitu kompleks. Yang perlu menjadi perhatian bersama adalah mangapa semakin mudahnya masyarakat melakukan pembunuhan atau aksi kejam bak bukan manusia beradab.Bayangkan hanya gara-gara tersinggung, orang tak berpikir panjang menghabisi nyawa orang lain.

Kalau di rata-rata berarti satu hari terjadi dua kasus pembunuhan. Sehingga tak mengherankan kalau kita setiap hari mendengar ada berita kasus pembuhan di media massa. Fenomena ini sungguh mengkhawatirkan bahkan memalukan dalam kacamata global. Hal terungkap dari pendapat wartawan Australia dari media NBC (23/11/2018), Simon Joe. Dalam opininya, Joe (2018) menyatakan kekecaman seperti jaman primitif dimana manusia bak binatang yang tak kenal peradaban justru banyak terjadi pada masyarakat yang selama ini dikenal alim/religius.

Kekejaman demikian juga terjadi di kalangan elite, seperti kasus pembunuhan keji yang konon didalangi oleh putra mahkota Arab, Salman. Ia diduga menjadi dalang mutilasi wartawan Arab, j. Kasoghi. Demikian pula kekejaman yang dilakukan oleh warga yang mengklaim sebagai sosok beragama. Maka mencermati fenomena demikian, kekejaman sosial justru tumbuh pesat di tengah nilai-nilai religius.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved