Opini

Opini Tasroh : Waspadai Predator Kekejaman Sosial

PAKAR Sosiologi Jepang, Yoshi Hanna dalam Social Satanic (2011), menyebutkan bahwa hadirnya era digital memicu percepatan kekejaman sosial

Opini Tasroh : Waspadai Predator Kekejaman Sosial
tribunjateng/cetak
Koar-koar Mahar. Opini ditulis oleh Tasroh, S.S.MPA,.MSc/Pegiat Banyumas Policy Watch dan Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan) 

Maka wajar apabila wartawan Australia itu menyebutkan bahwa negara-negara yang mengklain sebagai bangsa beragama justru lebih rusak moralnya dari negara dan warga atheis sekali pun. Bahkan di negara yang selama ini dikenal “tidak beragama” seperti Rusia atau China, justru kekejaman manusianya masih rendah. Mengapa kekejaman sosial justru berkembang di negara-negara mengaku beragama?

Maka Kalau ini dibiarkan pasti akan menjadi teror menakutkan di tengah-tengah masyarakat dan bahkan mengancam masa depan kemanusiaan secara keseluruhan.

Memang diakui, Sosiolog UGM, Partini (2018) gejala “penyakit spsial” umumnya ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa masyarakat kita begitu mudahnya membunuh. Di antaranya: Pertama, persaingan dan tekanan hidup yang semakin tinggi menyebabkan tingkat stres yang juga tinggi baik menyangkut masalah ekonomi atau lainnya. Hal inilah yang membuat orang gampang emosi dan berbuat nekad. Kedua, seiring dengan kemajuan teknologi banyak pengaruh asing masuk tanpa ada kontrol.

Dengan gadget yang dimiliki orang bisa mengakses tontonan apapun ataupun bermain media sosial. Belum lagi tayangan-tayangan di media kita yang banyak mempertontonkan adegan kekerasan.

Orang yang tak punya dasar iman yang kuat, pasti akan gampang sekali terpengaruh. Ketiga, tidak adanya role model atau teladan yang baik dari para pemimpin-pemimpin kita. Yang kita saksikan setiap hari adalah kegaduhan politik karena perang antarelite. Tentu ini lambat laun hal ini juga memengaruhi psikologis masyarakat.

Yang jelas, untuk mengatasi maraknya pembunuhan ini kita atak bisa hanya mengandalkan pada aparat penegak hukum. Hanya saja, penegakan hukum yang tegas dan tak pandang bulu memang harus dilakukan secara konsisten. Hal ini penting untuk menimbulkan efek jera agar masyarakat berpikir panjang ketika akan melakukan pembunuhan karena melihat hukuman yang tinggi.

Diberantas Bersama

Selain hukum, masalah ini juga sangat berkaitan dengan etika dan moral masyarakat. Karena itu solusinya adalah bagaimana kita melibatkan tokoh-tokoh masyarakat terutama tokoh agama untuk memberikan pencerahan bahwa membunuh itu perbuatan sangat biadab yang harus dihindari. Salah satu caranya adalah para tokoh tersebut bertanggung jawab terhadap perilaku masyarakatnya.

Para tokoh harus proaktif untuk terus melakukan pengawasan di lingkungannya. Dengan begitu diharapkan konflik yang terjadi di masyarakat bisa dikurangi. Yang tak kalah penting adalah para elite juga harus memberikan teladan yang baik di masyarakat. Jangan hanya mempertontonkan konflik yang bisa ditiru masyarakat bawah. Kesadaran kolektif sekaligus penegakkan hukum harus terus digalakkan tanpa pandang bulu untuk tuntas mengukap semu motif dan alibi kekejaman sosial tersebut.

Tak lupa laku elite termasuk para tokoh dan sosok yang merasa ditokohkan, bahkan para ustad, santri, guru, pejabat tinggi hingga para alim ulama, habib dan kyai harus kembali menjalankan fungsi-fungsi pembinaan keadaban sosial, turut melaksanakan nilai-nilai agama yang agung dan menjauhkan diri dari hasrat kuasa dan kekuasaan politik apalagi sibuk sendiri untuk kemapanan ekonomi diri dan kelompok sehingga ketokohan dan keteladanan tak lagi tercermin dalam laku keseharian.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved