Kabupaten Batang Jadi Salah Satu Pusat Budidaya Bawang Putih di Jateng

Dijelaskan pula oleh Megayani bahwa Pemerintah pusat mentargetkan pada 2021, Indonesia bisa swasembada bawang putih

Kabupaten Batang Jadi Salah Satu Pusat Budidaya Bawang Putih di Jateng
Istimewa
Bupati Batang Wihaji saat mengisi Bimbingan Teknis Budidaya Bawang Putih di Hotel Dewi Ratih, Selasa (4/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Kabupaten Batang, Jawa Tengah memiliki wilayah pegunungan dengan ketinggian 800 mdpl yang cocok untuk menanam bawang putih, bahkan salah satu desanya menjadi pemasok bawang di Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Megayani Thamrin dalam rilisnya menyebut Pemerintah pusat telah menunjuk Kabupaten Batang sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah yang menjadi pusat budidaya bawang putih.

Sehingga ke depan ditargetkan menjadi pusat budidaya dan pengembangan.

“Batang memiliki potensi besar, karena memiliki sejarah keberhasilan menjadi sentra bawang putih, Di tahun 1990-an kita pernah sukses menanam bawang putih,” tutur Megayani Thamrin saat Bimbingan Teknis Budidaya Bawang Putih di Hotel Dewi Ratih, Selasa (4/12/2018).

Sejarah ini semoga akan terulang kembali, karena tanahnya cocok menjadi daerah pengembangan bawang putih yang menguntungkan petani.

Selain Batang, juga ada daerah lain seperti Magelang, Karanganyar, Tegal, Temanggung, dan Pemalang yang ditunjuk oleh Pemerintah pusat.

“Pemerintah pusat telah memberikan bantuan berupa benih dan sarana prasarana untuk mendukung program tersebut, dengan target luasan lahan 50 hektare. Ada juga bantuan benih dan sarana prasarana dari importir dengan target luasan lahan bisa mencapai 500 hektare,'' ujarnya.

Dijelaskan pula oleh Megayani bahwa Pemerintah pusat mentargetkan pada 2021, Indonesia bisa swasembada bawang putih.

"Saat ini dari kebutuhan 400 ribu ton di tingkat nasional, 95% itu masih impor. Impor bawang putih paling besar itu dari China. Di sana harganya murah sekali, tapi di Indonesia dijual mahal," ujarnya.

Sedangkan di China, harga bawang putih paling sekitar Rp 10 ribu, tapi di Indonesia bisa dijual Rp 40 ribu. Terdapat selisih harga sangat jauh dan jika Indonesia bisa memenuhi kebutuhan bawang putihnya sendiri, akan melepaskan diri dari ketergantungan pada impor, sekaligus bisa mensejahterakan petani.

''Ada peluang ekonomi besar dan harus bisa kita tangkap. Butuh kerjasama dari semua elemen, termasuk juga kesungguhan dari petani. Dari pembibitan sampai paska panen harus kita kuasai sehingga ke depan Indonesia bisa swasembada bawang putih,'' jelasnya.

Sementara itu Bupati Wihaji mengatakan, pemerintah daerah siap memfasilitasi petani untuk mendukung keberhasilan program budi daya bawang putih. Seperti dari sisi ketersediaan benih dan mencarikan pasarnya. Wihaji juga meminta agar Dinas Pangan dan Pertanian untuk tidak menggelar Bintek yang bersifat formalitas.

“Jangan sampai setelah Bintek tidak ada dampaknya bagi program yang ada. Namun harus memastikan petani mendapat kemudahan serta keuntungan ketika diajak mengikuti Bintek yang digelar,” tuturnya.

Wihaji juga menegaskan untuk tidak boleh berhenti di pelatihan atau Bintek saja, harus ada jaminan darimana modal untuk petani dalam pembudidayaan dan pengembangan bawang putih, selain itu, pemasarannya juga harus jelas.

“Jadi setiap Bintek harus dihadirkan perwakilan perbankan maupun pembelinya,'' pungkasnya.(*)

Penulis: dina indriani
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved