KISAH Dua Pekerja PT Istaka Karya Selamat dari Pembantaian di Papua
Dua karyawan PT Istaka Karya melarikan diri dari serbuan KKB di kamp Kali Yigi Kabupaten Nduga.
TRIBUN JATENG -- Dua karyawan PT Istaka Karya melarikan diri dari serbuan KKB di kamp Kali Yigi Kabupaten Nduga. Keduanya ditemukan tim gabungan TNI/Polri di Distrik Mbua, yang merupakan distrik terdekat dengan TKP di Distrik Yigi.
Kedua karyawan PT Istaka Karya yang selamat pembantaian di Papua meskipun mengalami luka tembak adalah Martinus Sampe dan Jefrianto. Martinus mengalami luka tembak di kaki kiri. Adapun Jefrianto mengalami luka tembak di pelipis kiri.
"Di Distrik Mbuma, tim gabungan TNI/Polri telah bertemu dengan empat pekerja yang berjalan kaki dan berhasil melarikan diri, yaitu Martinus Sampe, karyawan Istaka Karya yang mengalami luka tembak di kaki kiri, dan Jefrianto, yang mengalami luka tembak di pelipis kiri.
Sedangkan dua orang lain adalah Irawan (karyawan Telkomsel) dan John (petugas puskesmas)," ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal.
Untuk sementara, keempat orang yang berhasil meloloskan diri tersebut dievakuasi ke Wamena dan tim medis sudah menjemput di sekitar Habema.
Kamal menjelaskan tim gabungan TNI/Polri sebanyak 153 personel berangkat dari Wamena menggunakan tiga unit kendaraan.
Mereka telah tiba di Distrik Mbua, yang merupakan distrik terdekat dengan TKP di Distrik Yigi.
"Untuk mencapai TKP di Distrik Yigi, tim harus berjalan dua jam lagi dari Distrik Mbua," kata Kamal.
Lebih jauh Kamal menjelaskan, dari keterangan empat orang yang ditemukan, pos TNI Yonif 755/Yalet/Kostrad di Distrik Mbua telah hancur diserang KKB pimpinan Egianus Kogoya dan seorang anggota TNI meninggal dunia.
"Kelompok KKB saat melakukan penyerangan terhadap pos TNI didukung masyarakat kurang-lebih 250 orang. Membuat anggota lari menyelamatkan diri pos Mbua hanya membawa senjata, tidak membawa barang-barang lain," ujar Kamal.
Jokowi Perintahkan Panglima dan Kapolri Tangani
Presiden Joko Widodo telah mendapat kabar soal penembakan di Papua terhadap 31 pekerja jembatan di Kabupaten Nduga, Papua. Presiden Jokowi memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengecek kejadian tersebut.
"Saya perintahkan tadi pagi ke Panglima dan Kapolri untuk dilihat dulu, karena ini masih simpang siur. Karena diduga itu. Karena sinyal di sana enggak ada. Apa betul kejadian seperti itu," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, dirinya pernah mengunjungi kawasan Kabupaten Nduga, Papua. Wilayah itu memang masuk dalam zona merah alias berbahaya. Jokowi juga menyadari bahwa pembangunan di tanah Papua memang ada kesulitan. Termasuk karena adanya gangguan dari kelompok bersenjata.
"Kita menyadari pembangunan di tanah Papua itu memang medannya sangat sulit. Dan juga masih dapat gangguan seperti itu," katanya.
Meski demikian, Jokowi menegaskan pembangunan di Papua terus berlanjut. Pembangunan Papua tidak akan terhenti karena kasus ini. "Pembangunan ditambah di Papua, tetap berlanjut," katanya.
Presiden Joko Widodo pernah melintasi lokasi yang saat ini merupakan lokasi penembakan 31 pekerja Trans Papua.
"Lokasi segmen 5 Trans Papua. Kalau ingat, dulu Pak Presiden tinjau lapangan dengan motor trail dari Wamena ke Habema," ucap Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.
Direktur Utama PT Istaka Karya Sigit Winanto menjelaskan situasi selama ini di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, yang mana lokasi tersebut merupakan lokasi terjadinya penembakan 31 pekerja proyek Trans Papua. Sigit menceritakan di area Kali Yigi dan Kali Aurak juga pernah terjadi kejadian konflik dengan warga setempat.
“Sebelumnya untuk keamanan, pernah ada beberapa kejadian yang relatif bisa (diselesaikan) secara negosiasi dengan lokal. Satu dua kali pekerja kita balik dulu ke Wamena dan kita cari solusi dan kembali ke lokasi,” ujar Sigit.
Hal tersebut juga menegaskan pernyataan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bahwa para pekerja di lokasi tersebut sudah menyatu dan berbaur dengan warga.
"Bahkan dari info yang diterima, warga menjamin keamanan pekerja Istaka Karya tersebut," kata Menteri Basuki.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjend Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, sejauh ini pihaknya masih kesulitan untuk mendapatkan informasi. Area terjadinya penembakan, jelas dia merupakan area 'Blank Spot' atau area yang tidak tersentuh sinyal komunikasi. "Karena lokasinya blank spot area komunikasi tidak bisa," katanya.
Marah Dipotret Diam-diam Saat Upacara
Penembakan terhadap 31 pekerja proyek jalan trans Papua terjadi di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Minggu (2/12). Para penembak berasal dari KKB Papua yang pimpinan Egianus Kogoya.
Penembakan tersebut diduga dipicu adanya aksi foto secara diam-diam yang dilakukan para pekerja saat KKB sedang menggelar upacara terkait rencana Papua Merdeka. Diketahui Egianus Kogoya selama ini disebut aparat kepolisian dan TNI memiliki catatan rapor merah dengan serangkaian aksi penembakan.
Minggu 2 Desember 2018 lalu, sebanyak 31 karyawan PT Istaka Karya (BUMN) yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dikabarkan tewas ditembaki.
Lalu pada tanggal 3 Desember 2018, satu anggota TNI yang bertugas di Distrik Mbua juga tewas ditembak dan satu terluka.
Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba mengonfirmasi para pekerja tersebut ditembaki oleh KKB lantaran diduga tepergok mengambil foto diam-diam. Salah satu pekerja diduga mengambil foto saat perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) oleh KKB tak jauh dari lokasi kejadian.
Aksi tersebut membuat KKB marah dan kemudian mencari oknum yang mengambil foto kegiatan mereka.
Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba, menjelaskan, ada 8 pekerja sempat menyelamatkan diri dengan bersembunyi di rumah anggota DPRD. Sayangnya, polisi menerima informasi 7 pekerja tersebut telah tewas.
“Informasinya pekerja trans papua dibunuh 24 orang dibunuh di kamp. Lalu ada 8 orang yang sebelumnya berhasil menyelamatkan diri ke salah satu rumah keluarga anggota DPRD setempat. Kini informasinya 7 orang di antara mereka juga meninggal dunia dan 1 orang berhasil melarikan diri,” katanya. Jadi total pekerja yang tewas adalah 31.
Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Papua AKBP Suryadi Diaz membenarkan informasi tersebut.
"Sebanyak 31 orang meninggal dunia, 24 orang dibunuh hari pertama, 8 orang yang selamatkan diri di rumah keluarga anggota DPRD dijemput, dan dibunuh, 7 orang meninggal dunia. Satu orang belum ditemukan atau melarikan diri,” ujar Suryadi Diaz.
Menurut Wakapolres Jayawijaya Kompol A Tampubolon, untuk sampai ke lokasi kejadian dari Wamena ibu kota Kabupaten Jayawijaya perlu perjalanan sekitar delapan jam dengan menggunakan kendaraan. Setelah itu, perjalaan dilanjutkan dengan berjalan kaki beberapa kilometer.
“Lokasi di sana tidak ada sinyal. Jalan mulai dari kilometer 46 sudah tidak beraspal dan menanjak. Di sana cuaca dingin, sekitar enam derajat celcius. Ini menjadi tantangan buat anggota di lapangan untuk menuju ke sana,” jelasnya.
Tampubolon mengungkapkan, 150 aparat gabungan diterjunkan ke lokasi guna mengecek kebenaran informasi penembakan massal tersebut.
“Intinya. Kalau yang terburuk terjadi. Tugas utama pasukan akan melakukan evakuasi jenazah dari lokasi kejadian ke Wamena. Tapi kita berdoa, hal itu tak terjadi,” ujar Kompol A Tampubolon.
Wakapendam XVII/Cendrawasih Letkol Inf Dax Sianturi mengungkapkan, Egianus Kogoya adalah pelaku pembantaian pekerja di Distrik Yigi. Selain itu, Dax menyebutkan bahwa Egianus bersama 40 orang pengikutnya juga menyerang Pos TNI di Mbua yang jaraknya 2 jam berjalan kaki dari Yigi, lokasi pembantaian 31 pekerja pembangunan jembatan.
“Jadi kemarin mereka juga menyerang pos TNI. Satu orang prajurit kita gugur dan satu luka-luka,” katanya
Menurut Dax, Egianus Kogoya memiliki banyak catatan kriminal dan memimpin kelompok yang bertentangan langsung dengan keutuhan NKRI.
“Jadi Egianus Kogoya ini dalam catatan kita, adalah kelompok yang secara politik bertentangan dengan NKRI. Tak sedikit dari mereka memiliki catatan kriminal,” katanya.
Ia juga menjelaskan, setidaknya kelompok ini memiliki 20 hingga 25 senjata api berstandar militer yang diduga hasil rampasan dari anggota TNI dan Polri yang mereka ambil secara paksa.
“Sampai sejauh ini, kita terus berupaya untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok ini. Hanya saja mereka sampai sejauh ini belum bisa kita tangkap,” ujarnya.
Dax menambahkan, Egianus Kogoya telah dicap oleh TNI sebagai teroris.
“Perbuatannya mereka ini sudah lebih dari teroris. Sangat tak manusiawi. Itu para korban membangun jalan untuk membuka ketertinggalan,” pungkasnya.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pelaku pembantaian 31 pekerja di Papua bukan merupakan kelompok kriminal melainkan kelompok pemberontak. Pasalnya, para pelaku menginginkan Papua memisahkan diri dari Indonesia.
"Mereka itu bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kenapa saya bilang pemberontak? Ya kan mau memisahkan diri, Papua dari Indonesia. Itu kan memberontak bukan kriminal lagi," ujar Ryamizard.
Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu, pelaku merupakan kelompok lama. Kelompok separatis yang selama ini ingin Papua memisahkan diri dari Indonesia.
"Ya itu-itu juga orangnya. Kalau sudah nembak-nembak gitu ya siapapun lah. Tidak ada kriminal nembak sebanyak orang itu," kata Menhan.
Ryamizard Ryacudu mengatakan kejadian pembantaian 31 pekerja infrastruktur di Papua harus ditangani oleh TNI. Pasalnya, pelaku merupakan kelompok separatis yang ingin Papua memisahkan diri dari Indonesia.
"Penanganannya harus TNI. Kalau kriminal iya polisi," ujar Ryamizard. Terlibatnya TNI lanjut Menhan karena tugas pokoknya adalah menjaga kedaulatan Indonesia, keutuhan, dan keselamatan negara. "Ingat, (mereka) ingin memisahkan diri. tugas pokok Kemenhan, tugas pokok TNI, satu, menjaga kedaulatan negara," katanya.
Ryamizard mengatakan langkah tegas akan dilakukan terhadap para pelaku pembantaian tersebut. Bahkan menurutnya tidak ada pintu negosiasi bagi para pelaku.
"Bagi saya tidak ada negosiasi. menyerah atau diselesaikan. itu saja," pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Istaka Karya (Persero) Sigit Winanto menyatakan berdasarkan data sementara, ada 28 pekerjanya yang menjadi korban penembakan oleh Kelompok Krimininal Separatis Bersenjata (KKSB) di proyek jembatan Trans Papua pada Minggu (2/12). Sebanyak 28 pekerja Istaka Karya tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.
Menurut Sigit, data yang yang diterima itu belum final, sebab pihaknya masih mengidentifikasi lebih lanjut jumlah korban dan identitasnya. “Dari rilis yang kami punya itu 28 pekerja. Menyangkut jumlah yang jadi korban masih perlu kami koordinasikan dengan lokasi kejadian,” ujar Sigit.
Sigit melanjutkan, berdasarkan informasi yang diterima, korban belum bisa dievakuasi dari lokasi kejadian karena terkendala akses yang sulit. Saat ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mengevakuasi jenazah korban penembakan tersebut. “Yang paling utama adalah evakuasi korban," ujarnya.
Lokasi kejadian pembunuhan pekerja PT Istaka Karya terjadi di Kali Yigi-Kali Aorak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga yang merupakan segmen kelima dari proyek Trans Papua, di ruas Wamena-Mumugu sepanjang 278 kilometer.
Dalam pengerjaannya, pemerintah menugaskan dua BUMN yakni Istaka Karya (Persero) dan PT Brantas Abipraya (Persero). PT Istaka Karya bertugas membangun 14 jembatan dengan 11 jembatan dalam proses pengerjaan.
PT Brantas Abipraya mendapat tugas membangun 21 jembatan, 5 di antaranya dalam proses pengerjaan, namun sejak 4 bulan lalu, pengerjaan jembatan itu berhenti karena rekomendasi dari aparat berwenang bahwa berada di area merah.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memastikan insiden penembakan 31 pekerja proyek jembatan di Kali Yigi-Kali Aorak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga tidak akan mengganggu pembangunan Trans Papua.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menegaskan, pembangunan Trans Papua akan tetap dilanjutkan. “Saya kira tidak mengganggu, pembangunan akan tetap berlanjut,” kata Menteri Basuki.
Basuki mengaku turut menyesalkan peristiwa nahas tersebut. “Kami menyampaikan ada kejadian di ruas Wamena dan Mamugu, kami merasa terkejut sekali dan sangat menyesalkan kejadian tersebut,” ujar Basuki.
Atas peristiwa itu, Menteri Basuki menyampaikan dukacita yang mendalam. Dalam jumpa pers kemarin, jajaran Kementerian PUPR kompak mengenakan pita hitam. Basuki menyebut, peristiwa itu memberikan semangat bagi kementeriannya untuk tetap melanjutkan proyek Trans Papua.
“Karyawan kami yang tewas di sana syahid, karena menurut saya mereka juga bekerja untuk masyarakat dan tetap memberi semangat kepada kami untuk untuk meneruskan proyek Trans Papua,” ungkapnya. (Tribun Network/dit/fik/fah/mam/kps/wly)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/lokasi-pembantaian-31-pekerja-oleh-kelompok-kriminal-bersenjata-kkb-di-nduga-papua.jpg)