Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Marsha Timothy Tak Mengira Raih Piala Citra
Membanggakan dan mengejutkan. Itu yang dialami Marsha Timothy istri dari aktor Vino G Bastian.
TRIBUNJATENG -- Membanggakan dan mengejutkan. Itu yang dialami Marsha Timothy istri dari aktor Vino G Bastian.
Marsha menyabet Piala Citra lewat aktingnya sebagai Marlina dalam Film Marlina Si Pembunuh Empat Babak.
Iya, Marsha menjadi Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2018.
"Enggak mungkin kalau acara kayak gini menyangka, pede gila. Saya bisa masuk nominasi saja sudah senang," ucap Marsha saat ditemui usai menerima penghargaan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/12).
Marsha mengaku tak mengira bakal meraih penghargaan bergengsi itu. Masuk nominasi Piala Citra saja sudah membuatnya senang.
Ia mengaku peran Marlina adalah peran yang menantang serta berbeda dari peran-peran lain yang ia mainkan.
"Karakter pertama yang saya mainkan dengan dialek daerah itu yang paling berkesan," ungkap Marsha.
Dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik, Marsha bersaing dengan Della Dartyan (Love For Sale), Dian Sastrowardoyo (Aruna & Lidahnya), Prisia Nasution (Lima), dan Putri Ayudya (Kafir).
Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak juga menyabet gelar Film Cerita Panjang Terbaik. Film arahan sutradara Mouly Surya ini mengalahkan nomine antara lain Aruna & Lidahnya, Skala Niskala, dan Sultan Agung : Tahta, Perjuangan, Cinta.
"Ya surprised sih sebenarnya. Mereka semua respected film maker. Mereka bagus semua. Itu yang bikin bangga perfilman Indonesia," Rama Adi selaku produser film saat menerima Piala Citra dalam ajang FFI 2018.
Penghargaan ini melengkapi deretan penghargaan lain yang berhasil diraih film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak yang juga mendapat apresiasi dari beberapa festival film mancanegara.
"Saya sih melihat untuk penghargaan apalagi di negara sendiri tempat kami tinggal, pastinya bangga. Kami sudah ke mana-mana. Pastinya bangga dapat penghargaan di negeri sendiri," ujar Rama Adi.
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak juga berhasil meraih penghargaan bergengsi untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Sutradara Film Panjang Terbaik dalam ajang FFI 2018.
Fakta Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil keluar sebagai juara umum Festival Film Indonesia (FFI) 2018.
Bagaimana tidak?
Film besutan Mouly Surya ini berhasil keluar sebagai pemenang dalam tiga kategori utama dari Piala Citra 2018, yakni Sutradara Terbaik (Mouly Surya), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Marsha Timothy), dan Film Cerita Panjang Terbaik.
Tidak hanya itu, film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak juga memenangkan tujuh kategori lain, mencakup:
Pengarah Sinematografi Terbaik (Yunus Pasolang)
Penulis Skenario Asli Terbaik (Mouly Surya & Rama Adi)
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Dea Panendra)
Penata Musik Terbaik (Zeke Khaseli & Yudhi Arfani)
Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa & Yusuf A Patawari)
Penyunting Gambar Terbaik (Kelvin Nugroho)
Pengarah Artistik Terbaik (Frans XR Paat)
Jadi bisa dibilang, secara keseluruhan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil memenangkan sepuluh kategori!
Wah, memangnya seperti apa, sih, sebetulnya film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini?
Nah, terutama yang belum menonton filmnya, simak langsung saja empat fakta film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berikut yang sudah kami rangkum.
Usut punya usut, kisah dalam film ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan di sebuah daerah terpencil, lho.
• Habib Bahar: Seandainya Kejadian 411 Itu Presidennya Ayah Saya, Ya Saya Katakan Banci
1. Tentang perjuangan janda di Tanah Sumba
Di film ini, Marsha Timothy berperan sebagai Marlina, seorang janda yang harus berjuang mempertahankan hidupnya saat harus menghadapi sekelompok perampok.
Berlatar siang hari di sebuah rumah tradisional tanah Sumba yang eksotis namun jauh dari perkotaan, bahkan dari Ibu Kota, kisah Marlina seolah menampilkan perjuangan perempuan untuk melawan ketidakadilan yang terjadi pada dirinya.
Film ini diwarnai ketegangan dan aksi Marlina yang dingin dan tenang dalam melawan semua ketakutan.
Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil keluar sebagai juara umum Festival Film Indonesia (FFI) 2018. (Istimewa)
2. Empat babak
Persis seperti judulnya, film ini terdiri atas empat babak: Perampokan, Perjalanan, Pengakuan Dosa, dan Tangisan Bayi.
Pada bagian pertama, kisah pilu Marlina bermula dari kedatangan perampok bernama Markus, kemudian disusul enam orang pengikutnya pada malam hari.
Saat Marlina hendak diperkosa, Marlina pun memenggal kepala Markus untuk membela diri.
Sementara bagian kedua menceritakan perjalanan Marlina yang ingin membawa kepala Markus ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang menimpanya.
Sayang, apa yang terjadi rupanya tidak sesuai harapan.
Di bagian ketiga, Pengakuan Dosa, Marlina harus menelan kenyataan pahit bahwa kantor polisi tidak langsung menangani kasusnya, terlebih karena kantor ini terletak di daerah terdalam Indonesia.
Pada bagian keempat, Marlina harus menghadapi situasi lain di rumahnya.
Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil keluar sebagai juara umum Festival Film Indonesia (FFI) 2018. (Istimewa)
3. Keluar dari zona nyaman
Kalau biasanya film-film Indonesia lebih sering mengambil lokasi di tempat-tempat mainstream, maka film garapan Mouly Surya memilih mengambil lokasi yang demikian berbeda.
Sumba sebagai latar dipilih Mouly sebagai ajakan untuk keluar dari zona nyaman, karena ingin menunjukkan kepercayaan lain selain yang dianut mayoritas, yakni kepercayaan lokal Sumba, Marapu, yang muncul dalam filmnya.
Bukan hanya soal latar, genre Western yang diangkat Mouly dalam film ini juga menawarkan sesuatu yang lain.
Hal ini tampak dari hadirnya kuda, musik serta lagu daerah, padang sabana, yang menjadi simbol-simbol untuk menunjukkan genre Western.
Belum lagi dari segi cerita yang menggambarkan seorang perempuan di tengah kondisi serba penuh ancaman, bukannya panik dan menangis, melainkan memilih menyelamatkan diri dengan memenggal kepala sang pelaku.
4. Apreasi tinggi luar negeri
Sebelum resmi tayang di Indonesia 16 November 2017, film yang diproduksi oleh Cinesurya Production bersama dengan Kaninga Pictures, serta berkolaborasi dengan Prancis, Malaysia, Singapura, Thailand ini faktanya sempat berkunjung ke berbagai festival film Internasional.
Di antaranya Cannes, New Zealand, Toronto, Busan, Melbourne, dan Maroko.
Film ini pun berhasil memperoleh penghargaan sebagai film dengan skenario terbaik pada Festival International du Film de Femmes de Salé (FIFFS) di Maroko, film terbaik Asian NestWave dari The QCinema Film Festival, Filipina.
Wah, wajar dong, ya, kalau film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil juga jadi juara umum FFI 2018 di negaranya sendiri? Sekali lagi, selamat! (*)