OPINI Edy Purwo Saputro : Andai Aku Jadi Koruptor

KPK telah menandatangani MoU dengan Mendagri Tjahjo Kumolo, Mendikbud Muhajir Efendi, Menristekdikti Mohamad Nasir dan juga Menag Lukman Hakim

OPINI Edy Purwo Saputro : Andai Aku Jadi Koruptor
TRIBUNJATENG/CETAK
Opini ditulis oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo, Editor Buku Ketahanan Pangan 

Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

TRIBUNJATENG.COM -- KPK telah menandatangani MoU dengan Mendagri Tjahjo Kumolo, Mendikbud Muhajir Efendi, Menristekdikti Mohamad Nasir dan juga Menag Lukman Hakim pada Selasa 11 Desember 2018 terkait urgensi pengembangan kurikulum pendidikan anti korupsi di semua level pendidikan yang akan berlaku efektif Juni 2019 bertepatan tahun ajaran baru. Langkah ini adalah upaya meredam kejahatan korupsi yang kian marak di republik ini dan karenanya logis jika sejumlah lembaga internasional sempat menyebut republik ini sebagai negara terkorup.

Fakta ini tidak mengharuskan kebakaran jenggot tapi justru berbenah untuk bangkit dari stigma negara terkorup. Ironisnya dengan semua fakta yang ada dan minimnya efek jera serta kemewahan – keleluasaan para koruptor di republik ini maka akhirnya banyak juga yang justru ingin menjadi koruptor. Mengapa demikian?

Andai aku jadi koruptor tentu wajah ku akan menghiasai halaman muka di sejumlah media, baik cetak atau visual. Bahkan, nama ku jelas akan menghiasai headline news di berbagai media, termasuk mungkin tersiar ke luar negeri.

Paling tidak dalam sepekan nama dan wajah ku akan terus menjadi pembicaraan publik. Bahkan, kasus ku juga akan diulas acara ILC di salah satu stasiun tv swasta dengan host terkenal pula karena ada rumor rating acara ini tertinggi sehingga pundi-pundi perolehan iklan akibat kasus ku juga akan berdampak positif terhadap pemasukan bagi tv tersebut. Selain itu, bukannya tidak mungkin rangkaian kasus ku juga akan diulas dalam tajuk rencana sejumlah media.

Andai aku jadi koruptor tentu apa yang aku tampilkan ke media bukan wajah memelas seperti kelas maling ayam atau sandil jepit di masjid atau begal kelas teri yang hanya bisa pasrah digebukin massa sambil babak belur dan lebam di sekujur tubuh. Tentunya aku harus tampil rapi, bersih, wangi dan tampilan parlente lainnya sehingga mirip juga dengan selebritis kelas internasional, bukan kelas kampung. Bahkan, aku siap juga untuk diwawancarai baik setelah terciduk OTT oleh KPK atau selama persidangan yang tentu akan berjalan sangat alot karena bisa saya atur ritme waktu persidangannya.

Andai aku jadi koruptor tentu aku harus bermanis-manis meniru jejak para senior yang telah sukses juga menjadi koruptor, tentu level ku adalah level koruptor kelas kakap, bukan koruptor ecek-ecek kelas teri yang cuma mencuri recehan uang rakyat.

Skenario pertama yang harus aku tampilkan ke publik adalah bersumpah atas nama agama dan juga berani bersumpah serapah lainnya misalnya digantung di Monas, jalan kaki Jakarta – Surabaya atau yang paling ekstrim misalnya berani sumpah pocong jika aku terbukti korupsi sepeser-pun. Meski aku sadar bahwa itu semua tidak akan berhasil mengecoh KPK untuk tidak menjebloskan aku ke bui atau setidaknya dalam masa tahanan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Andai aku jadi koruptor tentu aku berusaha mengulur-ulur waktu sampai publik bisa melupakan kasus ku dan kemudian aku bisa lenggang kanggung ke luar negeri. Andai apes ya sudah dinikmati saja hidup di penjara yang konon ada berbagai bintang yang bisa dinikmati mulai dari bintang 1 sampai bintang 7, meski saya yakini tidak ada yang berbintang kejora dan saya juga yakin tidak akan mau masuk penjara kelas melati yang penuh dengan pelaku kriminal kelas teri (konon katanya). Argumen dan dalih yang bisa saya sampaikan agar tidak masuk ke penjara kelas melati adalah kejahatan korupsi yang saya lakukan adalah extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa sehingga aku harus juga mendapatkan fasilitas yang luar biasa pula. Argumen lainnya bahwa aku kan Bento bukan penjahat kelas coro seperti kata Iwan Fals.

Andai aku jadi koruptor tentu aku akan bermain-main dengan berbagai strategi dan sandi yang lebih cerdas bukan seperti senior ku yang memakai sandi apel malang - washington sehingga mudah terbaca oleh KPK. Terlalu naif kalau menggunakan sandi bahasa lokal sehingga begitu gampang bagi KPK untuk menyadap dan menelisik jejak langkah yang telah aku lakukan selama melakukan korupsi.

Bahkan, bukannya tidak mungkin di setiap saat aku akan selalu rutin memakai masker wajah seperti cewek yang habis melakukan perawatan wajah agar tidak terciduk kamera CCTV yang mengintai disetiap kantor di berbagai instansi. Bahkan, smartphone yang aku pakai beserta nomernya harus sekali pakai agar tidak terendus oleh tajam dan runcingnya gerigi KPK yang setiap saat tentu bisa menyergap perilaku korupsi ku.

Andai aku jadi koruptor dan telah terbukti bersalah sampai akhirnya di vonis oleh hakim yang berkekuatan tetap tentu aku tidak tinggal diam, sambil berstrategi mencari celah tentu aku banding sambil sesekali menikmati udara segar di luar. Aku juga tidak bodoh untuk terus mencari koneksi yang sekiranya bisa meloloskan jerat hukum ku karena aku tahu dan sadar bahwa peradilan di republik ini tidak seratus persen bersih dan faktanya memang ada oknum di berbagai peradilan.

Akhil Mokhtar adalah contohnya dan juga berbagai hakim yang terjerat kasus suap seperti yang melibatkan Bupati Jepara. Tentu itu semua harus aku pelajari demi meloloskan diri dari jerat hukum atau setidaknya bisa mendapat hukuman ringan dan kalaupun berat ya masih bisa mendapatkan obralan atau diskonan remisi. Aku tentu tidak akan menggubris cemoohan orang tentang remisi yang akan aku terima sehingga pada akhirnya masa tahanan ku tinggal beberapa bulan saja.

Andai aku jadi koruptor dan terpaksanya masuk penjara maka aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan fasilitas yang terbaik, super istimewa dan yang berkelas bintang 7. Tidak pula lupa aku harus meminta fasilitas ruang untuk menyalurkan syahwat karena pemberitaan media atas terpidana hukuman mati Freddy Budiman menyebutkannya dan juga terkuaknya pengakuan mantan Kalapas Sukamiskin. Bahkan, jika ingin menghirup udara segar maka sesekali aku harus melakukan aksi tipu-tipu dengan berpura-pura sakit agar bisa dibawa ambulan terus ke rumah sakit untuk dijemput mobil yang telah stand by sebelumnya untuk membawa aku pergi bersenang-senang, entah dengan siapa dan entah di mana saja dan kapan saja yang ku mau. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved