Mengenang Korban Ratusan Jiwa dan Bangunan Belanda Akibat Gempa dan Longsor Wonosobo Tahun 1924

Pergeseran lapisan tanah di Dusun Jetis Desa Pacarmulyo Kecamatan Leksono Wonosobo

Mengenang Korban Ratusan Jiwa dan Bangunan Belanda Akibat Gempa dan Longsor Wonosobo Tahun 1924
Istimewa
Dokumen foto runtuhan bukit akibat pergeseran tanah tahun 1924 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATDNG.COM, WONOSOBO - Pergeseran lapisan tanah di Dusun Jetis Desa Pacarmulyo Kecamatan Leksono Wonosobo menimbulkan dampak cukup parah, Jumat (14/12/2018).

Tebing yang dijadikan warga areal persawahan itu longsor hingga materialnya banyak terlepas.

Berbagai jenis tanaman atau pepohonan ikut terbawa arus longsor, termasuk rumah bagian samping milik Edi Mulwanto.

Tanah lumpur, bangkai pohon hingga puing bangunan terseret mengikuti arah grafitasi yang bermuara di sungai Serayu, sejauh sekitar seratusan meter.

Sungai Serayu yang mulanya bening berubah coklat keruh karena bercampur lumpur longsoran.

Pergeseran lapisan tanah itu terjadi beberapa saat sebelum gempa bumi tektonik berkekuatan 2,8 magnitudo mengguncang Kabupaten Wonosobo, sekitar pukul 20.14 Wib.

Sebelumnya, wilayah itu juga sempat diguncang gempa dangkal berkekuatan 2,7 skala richter (SR), Senin (10/12).

Pergerekan tanah pada Jumat sore (14/12) ini mengingatkan pada peristiwa longsor dahsyat tebing Sungai Serayu yang menyertai gempa, November tahun 1924 silam.

Gempa yang berpusat 4 kilometer BL dari pusat kota Wonosobo kala itu menyebabkan fragmentasi dan pergeseran lapisan tanah.

Halaman
123
Penulis: khoirul muzaki
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved