Inilah Alba, Orangutan Albino yang Dilepasliarkan BKSDA ke Hutan Katingan
Orangutan Alba saat diselamatkan masih berusia 5 tahun dengan berat badan 8,3 kilogram.
TRIBUNJATENG.COM, KATINGAN - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) menyelamatkan orangutan albino bernama Alba,
Orangutan Alba saat diselamatkan masih berusia 5 tahun dengan berat badan 8,3 kilogram.
Orangutan Alba diselamatkan tahun lalu, tanggal 29 April 2017 di desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Saat ditemukan, binatang dilindungi ini menunjukkan perilaku liar yang menolak berdekatan dengan manusia..
Kondisi individu orangutan Alba betina sangat unik, memiliki penampakan, rambut dan seluruh tubuh putih, bola mata kebiruan dan pupil mata merah sehingga disebut albino.
Yayasan BOS telah merehabilitasi Alba setahun lebih sehingga dipandang layak untuk dilepasliarkan.
Pelepasliaran orangutan Alba juga Kika, yang telah menjalani rangkaian proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng Kalimantan Tengah dan setelah semua dinyatakan siap baik aspek kesehatan, kesiapan lokasi pelepasliaran
Direktorat Jenderal KSDAE bekerja sama dengan Yayasan BOS pada hari ini tanggal 18 Desember 2018 melepasliarkan dua individu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan.
Dua orangutan tersebut bernama bernama Kika dan Alba dilepasliarkan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kasongan, Kalimantan Tengah.
Mereka dilepas menyusul saudaranya yang sudah dahulu dilepasliarkan.
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Indra Exploitasia, yang Mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, mengapresiasi kegiatan ini dan menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah untuk meningkatkan populasi satwa di habitat alam.
Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya telah dikaji dan merupakan bagian dari sebaran Orangutan ini.
Beberapa tahapan dalam proses konservasi telah dilalui, dimulai dari penyelamatan satwa tersebut, selanjutnya upaya rehabilitasi Orangutan dengan melatih kemampuan adaptasi dan mempunyai tingkah laku seperti populasi di alam dan terakhir adalah pelepasliaran.
"seperti yang dilakukan saat ini,"ujarnya.
Pemberian nama "Alba" pada orangutan Albino yang ditemukan oleh masyarakat yang kemudian diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng ini ternyata ada maknanya.
Informasi dari Yayasan Borneo Orangutan Survival Palangkaraya, Kalteng, menyebut, Alba, berasal dari bahasa Latin yang berarti “putih,” diambil dari salah satu usulan yang diterima saat kompetisi pemberian nama, binatang berwarna indah tersebut.Kompetisi pemberian nama itu dilakukan bulan Mei 2017 lalu.
Alba diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan BOS Foundation Nyaru Menteng pada 29 April 2017. Saat itu, Alba berada di desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.Bahkan dia sempat dipelihara oleh warga setempat.
Alba tersesat hingga masuk ke permukiman warga diduga akibat tempat asalnya hancur akibat dampak kebakaran lahan dan perusakan hutan yang terjadi di Kalteng, khususnya di Kapuas.
Saat itu, Alba berusia sekitar 5 tahun dengan berat badan 8,3 kilogram, jenia kelaminya betina yang menunjukkan perilaku liar.
Selama beberapa hari pertama di karantina, Alba hanya mau makan tebu. Namun berkat perawatan intensif dari tim medis Alba mau makan lebih banyak variasi makanan, seperti buah-buahan dan susu.
Kondisinya, Alba berangsur membaik dan beratnya bertambah 4,5 kilogram.Selepas karantina, Alba dipindahkan ke Komplek sosialisasi 7 bersama tiga orangutan betina lainnya,
Selama dalam tahap rehabilitasi, Alba tampak sering berkawan dengan orangutan lainnya yang berbeda warna denganya, sebut saja Kika, Radmala, dan Unyu yang selama ini berbulu normal, mereka bergaul dengan baik layaknya sahabat.
Alba juga tidak menyukai kehadiran manusia dan memanjat dinding kompleks untuk menghindari kontak atau interaksi dengan manusia, tentu dia paling jadi sorotan orang yang datang ke lokasi tersebut, karena warnanya yang unik.
Setelah setahun lebih direhabilitasi akhirnya, Selasa (18/12/2018) Alba dilepasliarkan di TNNBBR Katingan, dan ini mendapat perhatian Gubernur Kalteng, H Sugianto Sabran yang menyambut baik kepulangan Alba ke TNBBBR dan untuk mempertahankan Alba di Kalimantan serta mengembalikannya ke habitat asli.
Gubernur Sugianto, sempat menekankan bahwa Alba ini adalah aset berharga sekaligus branding daerah Kalimantan Tengah.
Meskipun keputusan untuk melepasliarkan di taman nasional berbeda dengan rencana sebelumnya, yakni di pulau suaka berhutan.
Gubernur yakin bahwa bersama-sama, kita semua bisa menjamin Alba hidup liar di alam sejati. Gubernur meminta semua pihak untuk tidak hanya berharap, namun juga berupaya keras untuk mendukung pelestarian Alba dan semua orangutan lainnya di Bumi Tambun Bungai.
Sementara, Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah, Adib Gunawan, menyambut baik kegiatan tersebut dan menyatakan pelelapas liaran dua orangutan , Kika dan Alba merupakan hasil penyelamatan yang dilakukan tim Balai KSDA Kalimantan Tengah.
Kika adalah orangutan betina yang diselamatkan dari operasi gabungan BKSDA Kalimantan Tengah pada 18 Februari2017 di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah , hari ini juga dilepasliarkan. "Saat itu Kika telah berusia 5 tahun dengan berat badan9,3 kilogram dan masih menunjukan perilaku liar," ujarnya.
(banjarmasinpost.co.id /faturahman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/orangutan-alba-saat-diselamatkan-masih-berusia-5-tahun-dengan-berat-badan-83-kilogram.jpg)