Liputan Khusus

Kiat UMKM Siasati Dampak Pengoperasian Jalan Tol Trans Jawa

Pengoperasian jalan tol Pejagan - Pemalang seksi 1 dan 2 pada pertengahan 2016 silam, serta seksi 3 dan 4 pada November 2018 lalu

Kiat UMKM Siasati Dampak Pengoperasian Jalan Tol Trans Jawa
budi susanto
Rest area Kelangdepok di Tol Fungsional Pemalang Batang dipadati kendaraan pemudik, Senin (11/6/2018). 

"Saya pasang dua baliho‎ di sisi tol, arah ke barat dan timur. Ya meski harganya memang lumayan, Rp40-an juta per tahun, tapi saya pikir tak ada salahnya dicoba," tuturnya.‎

Menurut dia, berbagai upaya itu kini membuahkan hasil. Kini, toko miliknya kembali bangkit. Keberadaan tol, dikatakannya, tak lagi menjadi momok menakutkan. Bahkan, dirasa memberi peluang baru, yang sebelumnya tak didapat.‎

"Setelah ada tol, banyak orang-orang Jakarta, yang dulunya senang berlibur ke puncak (Bogor) atau ke Bandung, sekarang beralih wisata ke Guci, Tegal, dan sekitarnya. Saya tahunya ya karena banyak yang mampir sini‎ beli oleh-oleh," kata Yendra.

Menurut dia, tol memberikan kemudahan akses, sehingga orang-orang di Ibu Kota tak lagi segan mengunjungi objek-objek wisata di daerah. ‎Terlebih, letak toko miliknya dinilai cukup strategis: berada di antara pintu tol Brebes Barat - Brebes Timur. ‎

"Dengan semakin mudahkanya akses jalan dan transportasi, mobilitas orang semakin mudah. Ini bisa menjadi peluang, tergantung bagaimana kita memanfaatkan situasi," ujarnya.

‎‎Karena itu, depan ia yakin keberadaan tol tak lagi memberi dampak negatif terhadap keberlangsungan UMKM di Brebes. "Sekarang kalau musim liburan sudah mulai ramai lagi. Sudah banyak lagi pembelinya, sudah normal kayak dulu lagi," tuturnya.

‎Disinggung mengenai rencana pembangunan rest area di KM 260, Yendra mengaku telah mendengarnya. Ia pun mendukung adanya rest area di bekas bangunan pabrik gula (PG) Banjaratma, Kecamatan Bulakamba, Brebes itu.

"Kami tentu mendukung, karena itu juga salah satu upaya pemerintah agar ‎pelaku UMKM tetap hidup meski ada tol. Harapannya, ya nanti sewanya jangan terlalu tinggi, agar terjangkau kantong UMKM," ucap Yendra, yang mulai membuka toko YES, sejak 2006 ini.

‎Dituturkan lebih lanjut, ia pernah berencana membuka outlet di rest area di Ciledug. Namun, setelah melakukan survei dan kajian, ia pun akhirnya membatalkan niatnya itu. "Di Ciledug, setelah saya perhitungkan, gak masuk itungannya, mahal di ongkos. Karena itu, harapannya di Banjaratma nanti sewanya jangan mahal-mahal," tuturnya.

‎Senada disampaikan Dhan Bagus Purnama. Ia berharap, agar di rest area KM 260 memang benar-benar diperuntukkan bagi UMKM. Tak hanya menyediakan tempat, ia harap pemerintah juga memberi kemudahan-kemudahan dalam perizinan serta tarif sewa yang terjangkau.

Halaman
1234
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved