IHSG Parkir di Zona Hijau

Presiden Joko Widodo menutup perdagangan di Bursa Saham Indonesia (BEI) pada Jumat (28/12).

IHSG Parkir di Zona Hijau
Kontan/Yusuf Santoso
Ilustrasi 

JAKARTA, TRIBUNJATENG.COM  - Presiden Joko Widodo menutup perdagangan di Bursa Saham Indonesia (BEI) pada Jumat (28/12). Pada penutupan perdagangan akhir 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir pada level 6.194.

Meski parkir di zona hijau, tapi sesungguhnya dalam setahun terakhir IHSG tercatat turun 2,5%. Namun Presiden Jokowi menilai, capaian IHSG tersebut masih positif di tengah ekonomi global yang dinamis dan sulit diprediksi.

"Sebuah capaian yang bagus, yang penting hijau (IHSG). Ini patut kita syukuri, dan optimisme Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa ekonomi kita dalam transisi, dari sebelumnya konsumtif menjadi produktif, kurang berkualitas jadi berkualitas, meskipun ekonomi enggak mendukung," kata Jokowi pada penutupan perdagangan di BEI.

Ke depan, Jokowi berharap pasar modal Tanah Air dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Upaya tersebut perlu didukung kerjasama, kolaborasi dan sinergi antar sektor, moneter, fiskal, riil dan industri dunia usaha.

"Sehingga, ekonomi diharapkan bisa mencapai 5,17% dan didukung inflasi yang rendah di bawah tahun lalu, yakni di kisara 3,0%. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dan inflasi bisa terus dijaga dan kepercayaan investasi serta investo makin baik," ujarnya.

Jokowi berharap, pembangunan infrastuktur nantinya bisa didanai dari pasar modal. Sebab dengan pembiayaan dari pasar modal, pembangunan infrastuktur bisa lebih cepat.

"Kita harapkan tentu saja nantinya pembangunan-pembangunan infstruktur yang 2019 akan banyak selesai seperti LRT, tol baik di Jawa maupun luar Jawa, nanti bisa di-back up atau didukung dari pasar modal. Sehingga menjadikan kecepatan pembangunan jadi lebih depat lagi, akselerasi itu yang kita butuhkan dari pasar modal," ujar Jokowi.

Sementara itu, dari segi perekonomian secara makro, mantan Gubernur DKI Jakarta ini optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka 5,2 persen. Begitu pula inflasi yang dipastikan bisa lebih rendah dari tahun lalu. "Hanya angkanya di 3,0 berapa enggak tahu, yang pasti di bawah tahun lalu," ujar dia. Dia juga menyatakan pemerintah akan terus memunculkan berbagai kebijakan untuk menyederhanakan proses investasi terutama di sektor riil yang berorientasi ekspor. Sebab hingga saat ini, Indonesia masih harus menghadapi defisit neraca perdagangan yang pada November tercatat 2,05 miliar dollar AS. "Akan banyak nantinya kita munculkan sekali lagi kebijakan-kebijakan yang makin menyederhanakan dan juga kebijakan-kebijakan yang semakin memberikan kepastian kepada investasi, kepada sektor usaha, kepada sektor riil terutama yang berorientasi eskpor," ujar dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, prospek pasar modal di 2019 diharapkan lebih baik di tahun depan. Ini dilihat dari banyaknya perusahaan yang melakukango publicdi 2018.

"Tahun ini dan tahun depan yanggo publiclebih besar dari sebelumnya. Jadi kita mengharapkan pasar modal lebih baik tahun depan," kata Darmin.

Adapun terkait tahun politik yang berpotensi mempengaruhi minat investasi di tahun depan, Darmin mengungkapkan secara umum di tahun politik, kondisi ekonomi akan lebih baik.

Sebagai catatan, sebelumnya Direktur Utama BEI Inarno Djajadi juga sempat memaparkan capaian kinerja bursa sepanjang tahun 2018, yaitu total dana yang dihimpun atau fund raised mencapai Rp 16,01 triliun. Jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 9,5 triliun, angka tersebut meningkat cukup signifikan. Selain itu, Inarno pun membeberkan capaian BEI lainnya, yaitu terdapat 57 perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di BEI. Capaian ini adalah yang terbanyak sejak tahun 1992. Sehingga secara keseluruhan saat ini terdapat 619 saham di BEI.

(Kontan/Kompas.com)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved