Narno Gadaikan BPKB untuk Jualan Terompet di Semarang, Tapi Omzet Sepi dan Sering Diusir Satpol PP

Ia mengaku sebelum menjual terompet di Kota Semarang, sempat menggadaikan BPKB sepeda motor ke sebuah koperasi. Tujuannya untuk modal.

Narno Gadaikan BPKB untuk Jualan Terompet di Semarang, Tapi Omzet Sepi dan Sering Diusir Satpol PP
Tribun jateng/ Hermawan Handaka
Narno (60) seorang penjual terompet musiman asal Wonogiri yang biasanya berjualan di Jalan Ahmad Yani Semarang sedang menata berbagai macam terompet. Harga terompet yang di jual mulai dari Rp 5000 sampai Rp 35.000, Senin (31/12). Pada tahun 2018 penjualan terompetnya sepi di bandingkan tahun lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Faiza M Affan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di setiap malam pergantian tahun, banyak orang melakukan ritual meniup terompet. Tapi sejak lima tahun terakhir, tak banyak lagi yang memilih terompet sebagai penanda pergantian tahun.

Tentu, hal ini juga akan berdampak pada omzet penjualan terompet para pedagang terompet yang ada di beberapa kota besar. Tak terkecuali Kota Semarang.

Sepanjang Jalan Ahmad Yani Semarang berdasar pantauan Tribun Jateng pada Senin (31/12/2018) siang, hanya ada 12 pedagang terompet.

Satu di antaranya Narno (60), pria asal Wonogiri yang sudah berada di Semarang sejak dua pekan yang lalu.

Pedagang Terompet di Demak Keluhkan Omzet Turun Drastis Tahun Ini

Menurut Narno, kini menjual terompet tidak seperti lima tahun yang lalu. Lebih banyak ruginya dibanding keuntungan. Hal ini disebabkan dari gaya hidup masyarakat yang berubah.

"Terompet sekarang bukan hal yang wajib dibeli saat tahun baru. Beda dibandingkan tahun 2010. Sekarang saya justru banyak ruginya," jelas warga Ploso, Purwantoro, Wonogiri ini.

Apalagi, Narno juga harus kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP yang kerap merazia pedagang yang berjualan di atas trotoar. Jika sudah ada Satpol PP, mau tak mau Narno harus mengangkut dagangannya untuk dipindah ke tempat lain.

"Jualan terompet sekarang susah. Sudah tidak banyak yang beli, kami sering diusir karena menyalahi aturan. Karena kami hanya rakyat kecil dan perantau, sehingga saat diusir ya harus menurut saja," tegas Narno.

Ia mengaku sebelum menjual terompet di Kota Semarang, sempat menggadaikan BPKB sepeda motor ke sebuah koperasi. Tujuannya tak lain untuk modal kulakan dan biaya antar terompet dari Wonogiri ke Kota Semarang.

Halaman
12
Penulis: faisal affan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved