Breaking News:

Zona Waspada Tsunami Selat Sunda Masih 500 Meter dari Tepi Pantai

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika masih menerapkan zona waspada tsunami. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan perkembangan erupsi

Editor: Catur waskito Edy
Getty Image/BBC Indonesia
Anak Gunung Krakatau 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika masih menerapkan zona waspada tsunami. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, serta mempertimbangkan kondisi lereng/tebing dasar laut ataupun kondisi potensi kegempaan di Selat Sunda.

"Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada, dalam beraktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda, dalam radius 500 meter dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly dalam siaran persnya, Sabtu (5/1).

Sadly memastikan, pihaknya bersama Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman masih terus memantau Anak Krakatau dan potensi kebencanaannya.

Masyarakat diminta tidak terpancing informasi atau isu yang menyesatkan. "Mohon terus memonitor perkembangan informasi terkait kewaspadaan bahaya tsunami, melalui website, aplikasi mobile dan media sosial InfoBMKG, serta memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui aplikasi MAGMA INDONESIA Badan Geologi-ESDM, agar tidak terpancing dengan informasi atau isu yang menyesatkan," ujar Sadly.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus berlangsung. Berdasar pengamatan dari pos di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Krakatau meletus 60 kali pada hari Rabu (2/1). Namun, letusan tersebut tidak menyebabkan tsunami seperti peristiwa pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

Tsunami pada Desember lalu didahului dengan longsornya Gunung Anak Krakatau.

Untuk mengantisipasi tsunami akibat longsor, BMKG memasang alat berupa sensor pemantau gelombang dan iklim. Sensor tersebut dipasang di Pulau Sebesi yang jaraknya cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau.

Alat tersebut akan bekerja memantau pergerakan gelombang dan cuaca yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jika ada gelombang yang mengalami fluktuasi tinggi, sensor akan mengirim sinyal ke pusat data yang terhubung.(kps/tribunnews)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved