Eng Hwat Produksi Kue Keranjang untuk Menjaga Tradisi Leluhur

Bagi Eng Hwat (67) memproduksi kue keranjang merupakan bentuk menjaga tradisi leluhur.

Eng Hwat Produksi Kue Keranjang untuk Menjaga Tradisi Leluhur
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
pembuatan kue keranjang di rumah produksi Jalan Kentangan Tengah No 67 Kota Semarang, Rabu (16/1). Proses pengukusan kue keranjang ini memakan waktu 8 jam.

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Jamal Abdun Nashr

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi Eng Hwat (67) memproduksi kue keranjang merupakan bentuk menjaga tradisi leluhur.

Ia tidak menganggap kegiatan tahunannya ini sebagai bisnis.

Setiap menjelang perayaan tahun baru Imlek, di rumahnya di Kentangan Tengah, Kelurahan Jagalan RT 3 RW 5, Semarang Tengah, ia selalu memproduksi kue keranjang dibantu lima pekerjanya. Rutinitas ini ia warisi dari neneknya.

Kue keranjang identik dengan tahun baru Imlek. Kue ini hanya ada menjelang pergantian tahun baru Cina tersebut. Dahulu, orang tua biasa membagikan kue keranjang kepada anak-anak sebagai bentuk syukur. Namun kini budaya itu mulai ditinggalkan.

Dinamai kue keranjang karena saat proses pembuatannya dicetak menggunakan keranjang. Bekas keranjang akan muncul pada tekstur kue setelah jadi.

Bahan utama untuk membuat kue keranjang adalah beras ketan. Tepung beras akan dicampur dengan gula serta bahan campuran sesuai rasa yang akan dibuat. Beras ketan ia datangkan langsung dari Parakan, Kabupaten Temanggung.

Juarni (Tengah), Rakijan dan Asmawati sedang menyelesaikan pembuatan kue keranjang di rumah produksi Jalan Kentangan Tengah No 67 Kota Semarang, Rabu (16/1). Proses pengukusan kue keranjang ini memakan waktu 8 jam.
Juarni (Tengah), Rakijan dan Asmawati sedang menyelesaikan pembuatan kue keranjang di rumah produksi Jalan Kentangan Tengah No 67 Kota Semarang, Rabu (16/1). Proses pengukusan kue keranjang ini memakan waktu 8 jam. (TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA)

Hwat sapaan akrabnya, mengaku terpanggil untuk melestarikan budaya leluhurnya ini. "Saya meneruskan saja biar tradisinya tidak hilang. Kalau mikirnya bisnis rugi karena kerja cuma beberapa hari dalam setahun," sebutnya kepada Tribun Jateng, Rabu (16/1).

Menurutnya, banyak yang meninggalkan tradisi membagikan kue keranjang karena proses pembuatannya sangat rumit. Pembuatan kue keranjang secara tradisional membutuhkan waktu selama 12 jam.

"Masaknya saja sampai delapan jam. Belum termasuk cuci beras terus dijadikan tepung. Setelah dibikin adonan dimasukkan tungku," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Jamal A. Nashr
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved