Sepanjang 2018, Wonogiri Daerah Paling Rawan Penyakit Demam Berdarah di Jateng
Wonogiri menjadi wilayah di Jateng yang masyarakatnya rawan terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penulis: akbar hari mukti | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wonogiri menjadi wilayah di Jateng yang masyarakatnya rawan terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Hal itu diungkapkan Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Tatik Murhayati, Rabu (16/1/2019).
"Kita menghitungnya dari cast fatality rate (CFR), jadi Wonogiri tertinggi yakni 17,39 persen tiap seratus ribu penduduk. Tertinggi di Jateng," ungkapnya.
Meski begitu Tatik mengklaim frekuensi timbulnya penyakit (incident rate) penyakit tersebut di Jateng tahun 2018 menurut, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, angka penurunan mencapai 8,68 kasus per 100 ribu penduduk.
"Dua tahun sebelumnya, yakni 2017 ada 22 kasus per 100 ribu penduduk, dan 2016 yakni 44 kasus per 100 ribu penduduk," terang Tatik.
Sementara, untuk tahun ini, pihaknya telah menemukan 13 kasus DBD di Kota Semarang.
"Juga ada 22 orang yang terjangkit DBD di daerah Blora," ujarnya.
Tatik mengimbau masyarakat waspada terhadap penyakit DBD ini. Menurut dia, terdapat ciri-ciri seseorang bisa terjangkit DBD.
"Biasanya demam selama dua hari, lalu batuk dan pilek, biasanya dokter langsung mendiagnosa awal sebagai DBD. Tentunya harus dicegah sedini mungkin," urai dia.
Untuk program agar masyarakat tak terjangkit penyakit DBD, menurut dia telah digalakkan pemerintah pusat.
Yakni program Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik). Yakni satu anggota rumah secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk aedes aegypti di lingkungannya. Serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara kontinyu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/fogging-di-lokasi-terjangkit-dbd_20161113_115446.jpg)