Angka Garis Kemiskinan di Jateng Naik, Rokok Menjadi Salah Satu Komoditi Penyumbang Besar

Angka garis kemiskinan di Jateng meningkat sebesar 1,92 persen dari periode Maret 2018 ke September 2018

Angka Garis Kemiskinan di Jateng Naik, Rokok Menjadi Salah Satu Komoditi Penyumbang Besar
ilustrasi rokok(shutterstock) 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Angka garis kemiskinan di Jateng meningkat sebesar 1,92 persen dari periode Maret 2018 ke September 2018.

Hal itu terungkap dalam statistik kemiskinan Jateng yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 15 Januari 2019 lalu.

Garis kemiskinan dipergunakan sebagai batas untuk mengelompokan penduduk dalam kategori miskin atau tidak miskin.

Mereka yang digolongkan ke dalam kategori miskin adalah yang memiliki pengeluaran rata-rata per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Sebaliknya mereka yang tidak miskin yang berada di atasnya. Angka riil ke kenaikan garis kemiskinan dari awal ke akhir tahun 2018 sekitar Rp 7 ribu. Jika pada Maret di tahun tersebut garis kemiskinan ditetapkan Rp 350.875 per kapita per bulan. Tujuh bulan kemudian menjadi Rp 357.600.

Komponen garis kemiskinan terdiri dari unsur makanan dan non makanan. Makanan meliputi berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, daging ayam, telur hingga tempe. Sedangkan non makanan terdiri dari tagihan listrik, air, bensin, hingga pendidikan.

"Uniknya, dari unsur makanan itu selain bahan pokok ada juga komoditi rokok kretek filter. Dan menjadi komoditi terbesar ke dua terhadap angka garis kemiskinan di bawah beras. Jadi masyarakat kita ini sepertinya ndak makan ndak papa asal masih bisa merokok," kelakar Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono.

Secara berurutan beras, rokok, telur, daging, bensin, dan listrik menjadi komoditi yang paling mempengaruhi garis kemiskinan. Kenaikan harga komoditi tersebut akan semakin meningkatkan angka garis kemiskinan di Jateng.

Meski demikian, presentase pengaruh komoditi tersebut terhadap naik turunnya angka garis kemiskinan di desa dan di kota berbeda. Beras misalnya, jika di kota pengaruhnya hanya 17,88 persen di desa bisa mencapai 20,51 persen.

Sedangkan rokok lebih berpengaruh di masyarakat perkotaan yang mencapai 11,19 persen berbanding dengan 9,11 persen. Sementara pada September 2018 unsur makanan mendominasi pengaruh terhadap angka garis kemiskinan sebanyak 73,48 persen. (*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved