Peternak Sapi di Gunungpati Putar Otak Siasati Sapi Yang Enggan Makan Rumput Basah
Praktis, ternak sapi jadi kurang makan lantaran rumput yang disodorkan selalu tersisa.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: galih pujo asmoro
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Saiful Ma'sum
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Peternak sapi perah di wilayah Gunungpati, Semarang putar otak di musim penghujan seperti sekarang ini.
Hal itu dikararenakan hewan peliharaannya tidak begitu menyukai rumput dalam kondisi basah.
Di sisi lain, hujan yang kerap turun bikin rumput dalam kondisi basah.
Praktis, ternak sapi jadi kurang makan lantaran rumput yang disodorkan selalu tersisa.
Satu di antara peternak di Kelurahan Cepoko, Gunungpati, Hendro mengatkan,
Oleh karena itu, peternak sapi perah di wilayah tersebut harus pandai-pandai menyiasati keadaan tersebut.
Biasanya, seekor sapi bisa menghasilkan susu antara 13-15 liter per hari.
Namun karena kurang makan, jumlah produksi susu turun drastis, jadi 8-9 liter.
Oleh karena itu, peternak sapi perah di wilayah tersebut harus pandai-pandai menyiasati keadaan tersebut.
Untuk menjaga kuantitas produksi susu sapi perah, Hendro dan peternak lainnya menggunakan ampas tahu, dele ataupun singkong sebagai campuran pakan sapi.
"Mau tidak mau harus mencampurkannya lebih banyak lagi agar susu yang keluar tetap maksimal," terang pria kelahiran Kalipancur tersebut.
Namun bukan berarti hal itu bikin kekhawatiran peternak berakhir.
Lantaran, kata Hendro, ketersediaan ampas tahu dan kedele di Semarang terbatas.
"Kami pernah kekurangan ampas tahu."
"Akhirnya kami ganti dengan singkong dan pepaya giling," kata dia, Senin (21/1/2019). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/peternak-sapi-perah-di-gunungpati-semarang.jpg)