Ngopi Pagi

FOKUS : Sepakbola dan Kapolda

Nova Zaenal tiba-tiba mendekat sembari melayangkan ucapan kekesalannya kepada Bernand Mamadou. Gelandang Persis Solo

FOKUS : Sepakbola dan Kapolda
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Suharno Wartawan Tribun Jateng 

Oleh Suharno

Wartawan Tribun Jateng

Nova Zaenal tiba-tiba mendekat sembari melayangkan ucapan kekesalannya kepada Bernand Mamadou. Gelandang Persis Solo itu jengkel lantaran pemain asing Gresik United asal Liberia ini tidak melakukan tendangan fair play saat ada seorang pemain Laskar Sambernyawa terjatuh.

Nova dan Mamadou kemudian terlibat adu mulut di 20 menit jelang pertandingan berakhir antara Persis Solo menjamu Gresik United pada laga lanjutan Divisi Utama Wilayah Timur di Stadion R Maladi Sriwedari, tanggal 12 Februari 2009. Akhirnya Mamadou melepaskan pukulan ke arah pelipis Nova.

Tidak terima dipukul Nova kemudian membalas melepaskan bogemnya ke arah perut Mamadou. Kericuhan antar kedua tim akhirnya tak bisa dihindari meski Kapolda Jateng saat itu, Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo menyaksikan secara langsung bahkan memberi wejangan sebelum kick off supaya semua pihak dapat menjaga pertandingan ini dapat berjalan lancar.

Alhasil, Kapolda langsung mengintruksikan anak buahnya untuk menangkap Nova dan Mamadou untuk dibawa ke Mapolresta Surakarta. Namun setelah kedua tim memberikan jaminan, kedua pemain ini masih bisa melanjutkan laga hingga peluit panjang dibunyikan. Namun, Kapolda yang masih geram lantaran mendapat sajian laga tinju di tengah pertandingan sepakbola tetap membawa kedua pemain ke Mapolresta seusai laga.

Tidak hanya sekadar digelandang ke Mapolresta, Kapolda memutuskan untuk melakukan penyidikan hingga proses hukum di pengadilan bagi keduanya. Hingga akhirnya Pengadilan Negeri Surakarta memvonis keduanya hukuman penjara.

Empat hari setelah laga Persis Solo Vs Gresik United, tanggal 16 Februari 2009, Kapolda memberikan pengarahan untuk laga Indonesia Super League (ISL) antara PSIS Semarang Vs Persijap Jepara. Alhasil pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol tersebut berjalan lancar hingga akhir.

Namun PSSI tidak menganggap jalannya laga PSIS Vs Persijap berlangsung lancar. Serupa dengan laga Persis Vs Gresik United, PSSI ingin pertandingan di Stadion Jatidiri Semarang digelar ulang. Federasi Sepakbola negeri ini menganggap Kapolda memberi intervensi yang mempengaruhi jalannya pertandingan.

Sejumlah keputusan berani meski terbilang kontroversial yang diambil oleh Almarhum Irjen Pol (Purn) Alex Bambang Riatmodjo ini patut diapresiasi. Hal ini karena PSSI sering kali bertindak tidak tegas dan tak disiplin untuk urusan keamanan.

Kekerasan antar suporter, kekerasan antar sesama pemain hingga kekerasan ke perangkat pertandingan sudah menjadi hal wajar di sepakbola negeri ini. Ketika ada kasus kekerasan dalam sepakbola hingga merenggut nyawa baru PSSI bertindak tegas.

Namun hukuman untuk klub atau pemain atau manajemen bahkan suporter yang terlibat bisa saja tereduksi atau hilang begitu saja tak terlihat seperti udara. Tidak adanya efek jera ini yang membuat kasus kekerasan terus berulang terjadi.

Bagaimana mau bertindak tegas dan disiplin, jika PSSI saja tidak bisa mendisiplinkan dirinya sendiri. Jadwal kompetisi yang tidak jelas bahkan kerap berbenturan dengan agenda Timnas hingga yang terbaru dua wakil klub Indonesia terlambat menyerahkan daftar pemain terbaru untuk kompetisi Liga Champions atau Piala AFC.

Setelah mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI, semoga kedepannya Federasi Sepakbola negeri ini dapat menemukan sosok ketua yang tegas dan disiplin, yang mampu memberi efek jera bagi perusak sepakbola negeri ini. Semoga cita-cita rakyat negeri ini sejak merdeka tahun 1945 untuk melihat Timnas Indonesia dapat berlaga di Piala Dunia segera terwujud dengan cara mendisplinkan organisasi terlebih dahulu. (*)

Penulis: suharno
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved