Juan Guaido, Pemimpin Oposisi Venezuela Dilarang ke Luar Negeri

Mahkamah Agung (MA) Venezuela melarang pemimpin oposisi, Juan Guaido, meninggalkan negara itu dan membekukan rekening banknya.

SputnikNews
Aparat keamanan Venezuela menangani unjuk rasa dan kekerasan yang pecah di Caracas, Venezuela, Rabu (23/1/2019) 

TRIBUNJATENG.COM, CARACAS-- Mahkamah Agung (MA) Venezuela melarang pemimpin oposisi, Juan Guaido, meninggalkan negara itu dan membekukan rekening banknya. Pria berusia 35 tahun itu kini dilarang meninggalkan negara sampai penyelidikan berakhir.

"Dia telah menyebabkan kerusakan pada perdamaian di republik," kata Ketua MA Venezuela Maikel Moreno.
Diwartakan BBC, Rabu (30/1), langkah itu diambil saat krisis perebutan kekuasaan yang menimpa Venezuela. Seperti diketahui, Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela, pada pekan lalu. Langkah Guaido itu menuai dukungan dari Amerika Serikat dan negara lainnya.

AFP melaporkan, Guaido justru memilih untuk mengabaikan upaya pemerinta

han Presiden Nicolas Maduro mengekangnya, dengan menyebutnya sebagai tindakan yang bukan hal baru. "Saya tidak menampik ancaman, persekusi, saat ini. Tapi kami di sini, dan terus melakukan pekerjaan kami," ucapnya.

Di Washington, Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, memperingatkan konsekuensi serius jika ada tindakan yang membahayakan pemimpin oposisi Venezuela.

"Akan ada konsekuensi serius bagi mereka yang berusaha menumbangkan demokrasi dan membahayakan Guaido," kicaunya di Twitter.

Guaido naik ke panggung politik dan belum dikenal sebelumnya, sampai 3 Januari 2019, ketika dia dilantik sebagai Presiden Majelis Nasional. Pada 23 Januari 2019, dia mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara dan bersumpah untuk memimpin transisi pemerintahan yang akan menggelar pemilu demokratis. Dia menyerukan aksi demonstrasi massa yang menentang pemerintah pada pekan ini, bahkan dia meminta militer untuk mengubah keberpihakan.

Setidaknya 40 orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan nasional Venezuela. Selain itu, sebanyak 850 orang ditangkap sejak 21 Januari 2019.

Dalam kesempatan terpisah, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengatakan dia siap untuk menggelar negosiasi dengan oposisi yang didukung AS. Dalam wawancara dengan harian Rusia RIA Novosti di Caracas, dia siap untuk duduk semeja dengan oposisi yang dipimpin Juan Guaido.

"Jadi kami bisa membahas apa yang terbaik bagi Venezuela ke depannya," ucap Maduro sebagaimana diwartakan AFP, Rabu. (kps/afp/bbc)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved