Stikes Telogorejo

Kenali Delirium: Penyebab, Dampak, dan Pencegahannya

Delirium merupakan kondisi yang cukup umum ditemui, khususnya pada penderita usia lanjut yang dirawat di rumah sakit.

IST
ilustrasi delirium 

Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian, penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.

Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada.

Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri.

Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh).

Sindrom delirium mempunyai dampak buruk, diantaranya adalah pemanjangan masa perawatan di RS, hingga beresiko kematian.

Hampir setengah pasien delirium keluar dari kondisi rawatan akut rumah sakit dengan gejala persisten dan 20-40% diantaranya masih mengalami delirium hingga 12 bulan keluar dari rumah sakit.

Pencegahan delirium dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor risiko yang meningkatkan risiko delirium.

Orang berusia lanjut (di atas 60 tahun) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami delirium.Hindari penggunaan obat yang meningkatkan risiko deliritum, seperti ranitidin, digoksin, ciprofloxacin, kodein, amitriptilin (antidepresan), benzodiazepine.

Selain itu, beberapa latihan dapat dilakukan untuk menghindari delirium, seperti latihan rentang gerak, stimulasi pengihatan & pendengaran, latih kemampuan kognitif, dan selalu orientasikan pasien atau keluarga yang sakit terhadap orang, tempat, dan waktu. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved