BMKG: Setidaknya Hingga 7 Februari 2019, Curah Hujan di Jawa Tengah Masih Tinggi

Curah hujan Februari 2019 menunjukkan masih tinggi dan berpeluang terjadi di sebagian wilayah Indonesia.

BMKG: Setidaknya Hingga 7 Februari 2019, Curah Hujan di Jawa Tengah Masih Tinggi
dwi layla
Prakiraan Cuaca Pati 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis, El Nino Southern Oscillation, berstatus lemah (ENSO) dan Indian Ocean Dipole, berstatus netral (IOD), tidak cukup signifikan mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia.

Madden Julian Oscillation (MJO) fase kering diperkirakan akan aktif dan kurang berkontribusi pada pembentukan awan khususnya di Indonesia bagian barat hingga 2 pekan ke depan.

Nilai anomali suhu muka laut di sebagian wilayah perairan Indonesia selama Februari 2019 diperkirakan lebih hangat dari normalnya.

"Kondisi ini cukup berkontribusi terhadap penambahan suplai uap air di Indonesia," Kepala BMKG Prof Ir Dwikorita Karnawati, Minggu (3/2/2019).

Menurutnya, sirkulasi tekanan rendah di Australia bagian utara mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin di sekitar Maluku dan Papua, yang mengakibatkan peningkatan potensi pembentukan awan hujan.

"Pada Februari 2019 menunjukkan curah hujan tinggi berpeluang terjadi di sejumlah wilayah seperti sebagian Aceh, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua," terangnya.

Prof Dwikorita menerangkan, prakiraan potensi hujan sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi hingga 7 Februari 2019 mendatang hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Berkait itu pula potensi gelombang tinggi juga masih terjadi. Ketinggiannya antara 2,5 hingga 4 meter. Sebagai contoh di perairan Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), serta sebagian wilayah ke arah Papua," tuturnya.

Atas dasar itu, pihaknya secara umum mengimbau masyarakat untuk dapat tetap waspada terhadap berbagai potensi bencana yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.

"Misal banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat, terutama yang berada di daerah rawan. Waspada juga terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho roboh," tuturnya.

Lalu, lanjutnya, di saat terjadi hujan lebat disertai kilatan petir diharapkan untuk tidak berlindung di bawah pohon karena dapat membahayakan keselamatan mereka. 

"Untuk yang berada di sekitar tepian pantai, untuk senantiasa memerhatikan kondisi gelombang. Apabila gelombang dirasa tinggi, alangkah baiknya nelayan perahu atau kapal tradisional untuk tidak berlayar terlebih dahulu," ucapnya. (*)

Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved