Dokter Klinik Diminta Bisa Bantu Minimalisir Angka Penderita DBD, Caranya Seperti Ini

Dinkes Jateng meminta para dokter klinik dapat membantu upaya itu, melalui penguasaan diagnosis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau DBD itu.

Dokter Klinik Diminta Bisa Bantu Minimalisir Angka Penderita DBD, Caranya Seperti Ini
ACT
Fogging pemukiman rumah guna mengurangi perkembang biakan nyamuk penyebab DBD oleh ACT. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah berupaya terus fokus kurangi angka persebaran penyakit DBD di Jateng.

Di sisi lain, Dinkes Jateng meminta para dokter klinik dapat membantu upaya itu, melalui penguasaan diagnosis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau DBD itu.

Kepala Dinkes Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo menjelaskan, saat ini pihaknya mendorong dokter klinik di tiap klinik di Jawa Tengah untuk menguasai 155 diagnosis penyakit.

Satu dari belasan ratus penyakit itu adalah DBD.

"Hal itu tidak mudah. Dimulai dari penegakan diagnosis dan lain-lain. Termasuk DBD," ujar Yulianto, Minggu (3/2/2019).

Menurutnya penyakit dengue yang disebabkan nyamuk aedes argypti diklasifikasikan menjadi tiga.

Selain DBD atau Dengue Hemorrhagic Fever, lainnya adalah Dengue Fever (DF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).

"Sebenarnya dokter klinik harus paham untuk mendiagnosis DF, karena DHF dan DSS urusan rumah sakit. Tetapi karena masyarakat yang terkena DBD banyak, dokter klinik juga harus bisa mendiagnosisnya," ujarnya.

Dengan bisa mendiagnosis DHF atau DBD, orang yang terkena penyakit tersebut diharap bisa tertolong lebih cepat, sehingga terhindar dari kematian.

Halaman
12
Penulis: akbar hari mukti
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved