Polres Kudus Bekuk Komplotan Pemalsu STNK dan E-KTP, Pelaku Patok Tarif Segini

nam orang yang tergabung dalam komplotan pemalsu surat tanda nomor kendaraan (STNK) dibekuk Polres Kudus. Selain STNK, mereka juga bisa memalsu E-KTP

Polres Kudus Bekuk Komplotan Pemalsu STNK dan E-KTP, Pelaku Patok Tarif Segini
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Kapolres Kudus AKBP Saptono (tengah) saat menunjukkan barang pemalsuan dokumen saat gelar perkara di Mapolres Kudus, Senin (4/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Enam orang yang tergabung dalam komplotan pemalsu surat tanda nomor kendaraan (STNK) dibekuk Polres Kudus. Selain STNK, mereka juga bisa memalsu KTP-elektronik.

Kapolres Kudus AKBP Saptono mengatakan, enam pelaku tersebut yaitu Mahfud Junaidi (46)warga Desa Glantengan, Kecamatan Kota Kudus; Saronji (44) warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo; Kuswondo (54) warga Desa Gulang, Kecamatan Mejobo; Amirudin (48) warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan.

Sementara dua pelaku lainnya yaitu Junianto (38) warga Desa Krandon, Kecamatan Kota Kudus dan Boy Maliko (36) warga Kelurahan Mlatinorowito, Kecamatan Kota Kudus.

“Pertama ada anggota polisi yang mengamankan mobil ternyata STNK-nya palsu. Setelah itu kami amankan dua orang. Terus kami lakukan penelusuran,” kata Saptono.

Bermula dari mengamankan mobil yang memiliki STNK palsu, akhirnya kepolisian menangkap pembuatnya, Mahfud Junaidi.

Sementara lima pelaku lainnya merupakan orang yang terlibat dalam pembuatan dokumen palsu.

“Ternyata dia tidak hanya membuat STNk palsu, tapi juga KK, KTP-elektronik, buku nikah,” jelasnya.

Dari pengakuan Mahfud Junaidi, alasan memalsu dokumen mulanya hanya untuk memudahkan administrasi pelanggannya.

Dia cukup tahu persoalan administrasi berkat dia semula kerja di sebuah bank.

“Saya tahu apa yang dibutuhkan warga, misalnya KTP-elektronik, terus ada juga yang memesan STNK juga saya layani,” katanya.

Untuk membuat sejumlah dokumen palsu, Mahfud hanya bermodalkan peralatan, di antaranya komputer, printer, dan scanner. Sedangkan untuk kertas dia membelinya dari toko alat tulis.

“Saya patok tarif mulai Rp 1 juta untuk dokumen palsu,” katanya.

Atas perbuatannya, dia dijerat pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.(*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved