Ngopi Pagi

FOKUS : Valentine dan Budaya

Sampeyan dapat cokelat mboten, Mas? Hari Valentine, lho," tanya Timbul pada Mas Karjo yang sedang bikin teh ginastel untuk pelanggan

FOKUS : Valentine dan Budaya
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM -- "Sampeyan dapat cokelat mboten, Mas? Hari Valentine, lho," tanya Timbul pada Mas Karjo yang sedang bikin teh ginastel untuk pelanggan. Sore itu, di angkringan Mas Karjo, banyak pasangan muda mudi. Beberapa masih pakai seragam sekolah, putih abu-abu.

"Lha yo jelas dapat tho, Mbul. Tidak cuma satu, empat malah. Gelem ora?" jawab Mas Karjo sambil menunjukkan batang cokelat yang diletakkan di atas laci penyimpan plastik.

Menurut Mas Karjo, cokelat tersebut pemberian remaja-remaja pelanggan setia. Ada yang sengaja membeli untuk Mas Karjo karena ungkapan terima kasih sudah boleh ngutang di angkringan, ada juga yang diberikan karena cokelat itu ndilalah pemberian dari penggemar yang tak diinginkan. Tapi, ada juga yang diserahkan secara tulus kepada Mas Karjo karena ingin berbagi kebahagian di Hari Kasih Sayang.

"Makanan enak kayak gini kok ditolak ya, Mas? Jangan-jangan, mereka yang lantang menolak perayaan Hari Valentine karena katanya bukan budaya kita, belum pernah makan cokelat," kata Timbul sambil nyuil seruas cokelat batangan yang disodorkan Mas Karjo.

Tiga hari terakhir, sejumlah mahasiswa dan pelajar di beberapa daerah, menyerukan penolakan perayaan Hari Valentine. Aksi ini ada di Aceh, Bogor, juga Surabaya. Ada pula yang menyerukan menolak cokelat yang biasa diberikan di Hari Valentine sebagai lambang kasih sayang.

Bahkan, tanda pagar (tagar) #valentinebukanbudayakita juga meramaikan lini masa media sosial Twitter.

Beberapa akun yang tak setuju perayaan Hari Valentine mengaitkan hari tersebut dengan perzinahan.
Tak salah memang. Di Kendal, Satpol PP mengamankan 13 pasangan tak resmi di sebuah hotel melati tepat di Hari Valentine. Menurut petugas Satpol PP, di Hari Kasih Sayang, banyak pasangan tidak atau belum resmi yang mengunjungi hotel melati.

Tapi, tentu saja, ini bukan alasan kuat untuk sekadar menolak perayaan Hari Valentine. Jika mau konsisten, Satpol PP bakal menemukan lebih banyak pasangan tak resmi ada di hotel-hotel melati di hari lain.

Jika penolakan itu dikaitkan dengan budaya, diakui, perayaan Valentine memang diadopsi dari barat. "Lha tapi, bukankah banyak juga yang menolak sedekah bumi atau ruwatan? Padahal, itu jelas-jelas budaya kita lho, Mas," ujar Timbul sambil mecucu mengunyah cokelat.

Di Yogyakarta, massa tak sekadar menyatakan sikap menolak acara sedekah laut tetapi juga melakukan aksi pembubaran. Begitu pula di Banyuwangi, organisasi kemasyarakatan juga menolak Festival Gandrung Sewu.

Padahal, acara nanggap penari gandrung yang berawal dari ungkapan syukur petani itu kini telah berkembang menjadi kegiatan besar yang menarik wisatawan.

Seperti halnya hari-hari lain yang diakui dan ditetapkan pemerintah, Hari Valentine sebenarnya hanya pengingat atau simbol. Suatu waktu, kasih sayang kepada orang terkasih dan sesama itu sebaiknya ditunjukkan, sebagai ucapan terima kasih serta syukur. Karena, belum tentu, setiap orang mampu dan mau menunjukkan kasih sayang itu ke sesama.

Termasuk, mendoakan mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang terbaring sakit di Singapura. Meski tak mengenal secara pribadi atau berbeda pandangan politik, banyak yang secara tulus menyampaikan harapan dan doa untuk kesembuhannya. Masih ragu, berbagi kasih itu bukan budaya kita? (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved