Tiap Tahun, Tren Penyakit DB Di Kabupaten Tegal Terus Turun

Kasus Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Tegal mengalami tren penurunan setiap tahunnya

Tiap Tahun, Tren Penyakit DB Di Kabupaten Tegal Terus Turun
Tribunjateng.com/Akhtur Gumilang
Dialog Kabar Bupatiku di Kantor Dinkes Kabupaten Tegal, senin (18/2/2019). Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiadi (tengah kacamata) bersama Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Kasus Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Tegal mengalami tren penurunan setiap tahunnya.

Untuk tahun 2016 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal mencatat pasien yang terjangkit kasus DB ada sebanyak 610 dan korban meninggal dunia 16 jiwa.

Kemudian, kasus DB untuk tahun 2017 berkurang cukup drastis menjadi 261 pasien dengan korban meninggal dunia sebanyak 3 jiwa.

"Tahun 2018 berkurang lagi jadi 72 pasien DB dengan korban meninggal dunia 1 jiwa. Trennya memang turun terus dari tahun ke tahun," kata Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiadi, dalan acara Kabar Bupatiku di Kantor Dinkes, Senin (18/2/2019).

Untuk tahun 2019, pihaknya sejauh ini mencatat ada 31 kasus DB hingga Senin, 18 Februari 2019.

Sebagian besar, kata Hendadi, pasien DB di Kabupaten Tegal adalah anak-anak atau remaja.

"Belum ada yang meninggal dunia. Rata-rata pasiennya anak kecil karena daya tahan anak lebih rentan," kata Plt Direktur RSUD Soeselo Slawi itu.

Dari hasil penelitian, tambah Hendadi, DB disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang hidup di tempat atau wadah penampungan air jernih untuk meletakkan telurnya.

Misalnya bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, dan tempat-tempat sejenis lainnya.

"Untuk itu, Dinkes kini membentuk tim sergap untuk membasmi jentik-jentik nyamuk yang ada di setiap kecamatan," jelas dia.

Saat disinggung soal fogging, Hendadi menyampaikan bahwa fogging dilakukan ketika di sebuah daerah ditemukan lebih dari satu kasus DBD.

“Jadi fogging dilakukan tidak sembarangan. Kalau ditemukan kasus, petugas akan melakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi dengan radius 100 meter. Karena nyamuk hanya bisa terbang maksimal 100 meter,” tuturnya. (TRIBUN JATENG/GUM)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved