Breaking News:

Bupati Tegal Soroti Warga Tinggal Dekat Sungai: Mereka Cenderung Buang Kotoran ke Sungai

Awal 2019, 70 desa di Kabupaten Tegal telah dinyatakan Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Bupati Tegal Umi Azizah (kedua dari kiri) dan Kepala Dinkes Kabupaten Tegal Hendadi Setiadi (ketiga dari kiri) dalam rakor ODF di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Rabu (20/2/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Awal 2019, 70 desa di Kabupaten Tegal telah dinyatakan Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal menyatakan, ODF 100 persen di puluhan desa itu indikatornya yakni memiliki akses jamban sehat sehingga perilaku BAB sembarangan sudah tidak ada.

Meski begitu, pihak Dinkes memberi perhatian khusus kepada 5 desa yang akses jambannya masih di bawah 50 persen.

"Alhamdullilah, awal tahun ini sudah tambah beberapa desa yang ODF. Namun, adapun 5 desa masih menjadi perhatian khusus kami karena ketersediaan jamban sehat minim," kata Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiadi dalam acara Rakor ODF di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Rabu (20/2/2019).

Dia menuturkan, kelima desa itu mendapatkan perhatian khusus dikarenakan masih terbiasa BAB sembarangan, khususnya di sungai.

Sehingga, pihaknya meminta keterlibatan pemerintah desa (Pemdes) untuk bisa menekan perilaku warganya yang masih BAB sembarangan.

Namun selebihnya, dia tetap optimis tahun ini, Kabupaten Tegal bisa dinyatakan ODF 100 persen.

Sebab berdasarkan data, tambah Hendadi, dari 174 desa kini sudah memiliki akses jamban sehat antara 75 persen sampai 99 persen.

"Untuk ODF, Kabupaten Tegal memang masih di peringkat 22 dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Semoga dengan komitmen ODF tahun ini, bisa naik peringkat," papar dia.

Sementara, Bupati Tegal Umi Azizah yang hadir pada rakor tersebut menyoroti beberapa desa yang sulit mencapai ODF, utamanya warga desa dekat sungai.

Pasalnya, menurut dia, warga desa di sekitar sungai lebih cenderung membuang kotorannya ke sungai, daripada membuat septic tank.

Bahkan, Bupati Umi mengetahui, ada beberapa warganya yang rela membuat saluran air menuju sungai atau kali untuk digunakan sebagai tempat pembuangan kotoran keluarga.

"Maka, kami ingin Pemdes yang letak geografisnya memiliki sungai bisa mendorong warga agar tidak membiasakan buang kotoran ke sungai. Pemdes harus mulai menggunakan dana desanya untuk pengadaan akses jamban sehat," cetus Umi. (Akhtur Gumilang)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved