Rusia-AS Panas: Putin: Tak Ada Alasan Munculkan Kembali Krisis Misil Kuba

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa negaranya 'dipaksa' menanggapi rencana pengerahan rudal jarak menengah dan pendek

Rusia-AS Panas: Putin: Tak Ada Alasan Munculkan Kembali Krisis Misil Kuba
ISTIMEWA
Presiden Rusia, Vladimir Putin 

TRIBUNJATENG.COM, MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa negaranya 'dipaksa' menanggapi rencana pengerahan rudal jarak menengah dan pendek Amerika Serikat (AS) di Eropa.

Ia menyampakaikan, pihaknya akan menggunakan cara yang sama jika AS benar-benar mengerahkan rudal tersebut ke benua Eropa, setelah penarikan diri dari Perjanjian Angkatan Nuklir Menengah (INF) 1987.

Menurutnya, kepentingan antara Rusia dan AS yang selama ini saling bersaing, bukan merupakan alasan yang tepat untuk mengulang konflik lama yang mendorong dunia masuk ke dalam krisis.

"Ya, ada masalah, (AS) menciptakan semakin banyak masalah, tapi ada juga mekanisme dan alat untuk bekerjasama dalam masalah ini," ujar Putin, kepada awak media pada Rabu kemarin.

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (21/2/2019), ia pun menunjukkan bahwa Rusia dan AS telah menjalin hubungan yang baik terkait pasukan militer kedua negara itu.

Di Suriah misalnya, keduanya berjuang bersama melawan terorisme.

"Apakah ada semacam konfrontasi serius antara dua sistem seperti yang terjadi selama Perang Dingin? Tentu saja tidak, yang ada adalah klaim timbal balik, pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan berbagai masalah,".

"Namun ini bukan alasan untuk mengangkat masalah tersebut menjadi semacam konfrontasi seperti Krisis Karibia tahun 1960-an," tegas Putin.

Sebelumnya, selama pidato tahunannya dihadapan anggota parlemen Rusia, Putin memperingatkan AS untuk tidak mengerahkan rudal nuklir jangka menengah dan pendek di kawasan Eropa.

Ia menekankan, hal itu secara dramatis akan memperburuk situasi keamanan internasional dan menciptakan tantangan serius bagi Rusia.

"Ini adalah ancaman yang sangat serius bagi kami, dalam hal ini kami akan 'dipaksa', dan saya ingin menekankan hal ini, kami dipaksa untuk mengambil langkah-langkah serius," kata Putin.

Krisis Rudal Kuba pada 16 hingga 28 Oktober 1962 merupakan pertikaian militer antara AS dan Uni Soviet.

Peristiwa itu terjadi setelah kepemimpinan Soviet membuat keputusan untuk mengerahkan rudal nuklir ke Kuba demi mencegah kemungkinan serangan nuklir pertama AS serta melawan penyebarannya.

Para sejarawan di seluruh dunia pun menganggap Krisis Rudal Kuba sebagai salah satu episode paling berbahaya dari Perang Dingin.

Krisis tersebut dianggap telah membawa umat manusia menuju jurang kiamat nuklir. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved