OPINI Tasroh: Revitalisasi Sungai dan Proyek DAS

Di tengah musim penghujan yang sudah banyak mendatangkan banjir bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, ambles dan meluapnya air

OPINI Tasroh: Revitalisasi Sungai dan Proyek DAS
Bram
Tasroh 

Oleh  Tasroh, SS.MPA,MSc

ASN/Tim Pengembangan Proyek Infrastruktur Daerah dan Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan

TRIBUNJATENG.COM -- Di tengah musim penghujan yang sudah banyak mendatangkan banjir bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, ambles dan meluapnya air dimana-mana bersamaan dengan intensitas curah hujan di awal tahun 2019 ini.

Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia sangat memprihatinkan bahkan layak disebut kian tertindas. Disamping berdasarkan laporan Kementrian PU (2019) sedikitnya 14 ribu DAS dalam keadaan rusak, di tahun anggaran baru 2019, proyek DAS juga “hanya” mendapatkan alokasi anggaran pembangunan dan perbaikan sebesar Rp 1,4 triliun dari kebutuhanrealsebesar Rp 10 triliun (Kompas, 14/1/2019).

Atas dasar hal tersebut Kementrian PU merencanakan bahwa proyek DAS besar hampir semuanya masuk skala prioritas untuk diperbaiki di tahun 2019.

Hal ini mengingat selama puluhan tahun dari rezim ke rezim proyek DAS masih dipandang sebelah mata. Bukan hanya selalu “dianaktirikan’ dari postur alokasi APBN/D tetapi juga kurang dipandang penting oleh para pengguna anggaran di berbagai level birokrasi.

Padahal nilai strategis proyek DAK justru amat mendesak dijalankan. Jika dibiarkan kondisinya akan semakin parah. Dampaknya, ancaman bencana hidrometeorologi (seperti banjir dan tanah longsor) semakin meluas. Degradasi DAS akan memperparah fungsi sebagai kawasan tangkapan air yang berperan untuk menjaga kelangsungan kebutuhan air bagi masyarakat di sekitarnya.

Kerusakan DAS menuntut perbaikan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Kementerian Kehutanan Nur Sumedi memaparkan kerusakan DAS itu dalam Global Youth Summit (GYS) di SMA Taruna Nusantara. DAS rusak itu menjadi cerminan tingkat kebutuhan untuk membangun dan menjaga kelestarian alam mengalami persaingan.

Bisa dikatakan kini persaingan lebih tinggi tingkat kebutuhan dibandingkan menjaga kelestarian alam. Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya tahun lalu pernah menyatakan Indonesia memiliki 17.000 DAS, dan sedikitnya 2.145 DAS perlu dipulihkan. Kepala Balai Besar kini menyatakan 14 ribu DAS rusak karena dipenuhi lumpur, sedimentasi, dan sampah.

Ribuan sungai itu dibiarkan 'liar' nyaris tanpa perawatan dan perbaikan salurannya sehingga harus segera dipulihkan sebelum jadi 'predator' bagi manusia dan lingkungan. Pemulihan bisa jadi menuntut prioritas yang tidak bisa ditawar lagi bila tak ingin berdampak luas bagi kehidupan dan lingkungan. Tidak ada batasan waktu perbaikan karena kondisi DAS menuntut setiap saat ada keseimbangan. Maka wajar apabila ketika musim penghujan datang, banjir, longsor dan ambles jadi menu keseharian.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved