Devita Daftar Jadi Pelipat Surat Suara di Purbalingga: Hiburan Sembari Menanti Pekerjaan Tetap

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Purbalingga membuka lowongan pendaftaran petugas sortir dan pelipat kartu suara.

Devita Daftar Jadi Pelipat Surat Suara di Purbalingga: Hiburan Sembari Menanti Pekerjaan Tetap
tribunjateng.com/galih permadi
ILUSTRASI Pelipatan surat suara. KPU Purbalingga Baru Distribusikan Surat Suara di 5 Kecamatan, Minggu 6 April 2014. 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Purbalingga membuka lowongan pendaftaran petugas sortir dan pelipat kartu suara.

Dibutuhkan 200 petugas untuk menyortir dan melipat kartu sebanyak 3.836.277 lembar.

Petugas yang diterima atau lolos tes disyaratkan tidak buta warna, bisa baca tulis, serta rapi dalam melipat.

Komisioner KPU Purbalingga Divisi Sosialisasi Andri Supriyanto mengatakan, banyaknya surat suara yang harus dilipat, baik untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, sehingga harus ada kepastian ketiga syarat itu.

“KPU Purbalingga hanya mampu menerima 200 orang. Hal tersebut karena terkendala tempat, gudang yang tersedia terbatas,” katanya.

Masa pelipatan kartu suara, lanjut Andri, ditargetkan 20 hari selesai.

Setiap petugas ditarget menyelesaikan 2 atau 3 dus surat suara dalam sehari.

Jika selesai, petugas tidak boleh menambah pekerjaan.

Sistem kerja semacam ini diberlakukan agar pelipatan tidak semrawut dan rapi.

Jika pelipatan tidak dibatasi, petugas cenderung hanya mengejar target tanpa melihat ketelitian dan kerapian yang bisa menimbulkan permasalahan kemudian hari.

Meski masa kerja sebentar, animo masyarakat untuk mendaftar ternyata cukup besar.

Macam-macam motivasi masyarakat yang ingin terlibat dalam pekerjaan ini, dari motif idealis hingga ekonomis.

Edo Valdini dari Desa Bojong Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga misalnya, dia mendaftar untuk menjadi tenaga pelipat bukan tanpa alasan.

Pemilu 2019 bagi dia merupakan momentum penting untuk ikut menyukseskan penyelenggaraan pesta demokrasi itu.

Ia pun berharap, keikutsertaannya ini bisa memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara meski hanya berperan sebagai petugas pelipat surat suara.

Lain halnya Disvelda Devita dari Kelurahan Bojong, Kecamatan Purbalingga.

Bagi dia, menjadi petugas pelipat hanya untuk mengisi waktu kosong setelah selesai kuliah.

Wajar saja, pekerjaan ini memang sulit diandalkan karena durasi kerja yang sangat singkat.

Tetapi tak ada salahnya, sembari menunggu pekerjaan, pekerjaan singkat bisa jadi pilihan untuk mengisi waktu luang.

“Sambil menungggu lamaran pekerjaan, tak salahnya kami ikut melipat juga untuk menambah pengalaman,” katanya. (Khoirul Muzakki)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved