KPAI : 6 dari 14 Siswa HIV di Solo Masih Belum Bisa Sekolah
Komisi Perlindungan Anak Indonesia berupaya mengklarifikasi dugaan penolakan bersekolah bagi 14 siswa pengidap HIV/AIDS di Kota Surakarta.
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Komisi Perlindungan Anak Indonesia berupaya mengklarifikasi dugaan penolakan bersekolah bagi 14 siswa pengidap HIV/AIDS di Kota Surakarta.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti menuturkan, upaya klarifikasi itu diperlukan guna menghilangkan anggapan buruk para pengidap HIV khususnya kalangan anak.
"Selain sudah viral, laporan ini sudah sampai ke kantor Staf Presiden. Tentu hal ini perlu ditindaklanjuti agar tidak menjadi satu preseden bahwa anak-anak HIV selalu ditolak,"ujar Retno, Rabu (27/2/2019) di Balai Kota Surakarta.
Dia membeberkan, pihaknya pernah menangani kasus serupa.
Kasus terbaru ditangani di Sumatera Utara, tepatnya wilayah Samosir.
"Namun ini penangan tampaknya berbeda. Kami menilai Pemkot Solo ini sudah melakukan upaya-upaya untuk memenuhi hak para anak itu," tuturnya.
Retno mengimbuhkan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan 14 anak pengidap AIDS yang dimaksud.
Informasi terbarunya, kebanyakan anak-anak sudah bersekolah kembali.
Masih ada 6 orang belum bersekolah.
Tiga di antaranya terhambat soal administrasi.
Sedangkan tiga siswa sisanya masih belum bisa karena ada penyakit kulit.
"Kata orang jawa itu borokan gitu. Itu mau disembuhkan dulu," beber Retno.
Dia berpendapat pemerintah kota sudah menjamin kelanjutan pendidikan 14 siswa itu.
Selain itu, Retno menegaskan masih ada permasalahan soal KIP dan KIS.
Menurutnya, belum semua anak sempat mengurus kartu sakti tersebut.
"Kalau memang nantinya difasilitasi dengan KIP, berarti ada masalah kependudukan. Karena tidak semua anak-anak itu warga Kota Solo. Bahkan kemarin ada yang dari Timika," ungkapnya.
"Semoga ini segera bisa dituntaskan," imbuh Retno.(*)