Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini S Prasetyo Utomo : Memaknai Semarang, Kota Spiritual Nh. Dini

BAGI Nh. Dini, Semarang bukan sekadar kota kelahiran. Bukan sekadar kota tempat ia menjemput takdir. Bukan pula sekadar sebuah kota

Bram
S Prasetyo Utomo 

Oleh S Prasetyo Utomo

Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes

BAGI Nh. Dini, Semarang bukan sekadar kota kelahiran. Bukan sekadar kota tempat ia menjemput takdir. Bukan pula sekadar sebuah kota dengan latar tempat, waktu, suasana dalam novel-novel dan seri kenangannya. Semarang telah memberinya pengalaman batin dan kenangan yang memahat jiwanya sangat dalam, menjadi pijakan spiritual, yang memberinya arah bagi perkembangan jiwa, saat menghadapi konflik, krisis, dan pergulatan hidup.

Pada pembacaan saya terhadap cerita-cerita kenangan Nh. Dini, latar Kota Semarang sebagai deskripsi eksotisme sosio-kultural, mempertautkannya dengan atmosfer kebudayaan yang membentuk jatidirinya. Pada sisi yang lain saya menandai Semarang sebagai “rumah jiwa” bagi kembalinya pengembaraan Nh. Dini. Ia telah menikah dengan Yvess Coffin, yang membawanya mengembara meningggalkan tanah air. Ia yang telah melakukan pengembaraan dan mengalami benturan-benturan kebudayaan, mengalami kegoncangan jiwa dan menemukan tempat untuk pulang, kembali ke akar tradisi ketika kembali ke Sekayu, pindah ke Griya Pandana Merdeka, dan kembali lagi ke Sekayu. Ia sempat tinggal di Yogya, sebelum menetap di Banyumanik. Bersama dengan beberapa dosen Undip, saya pernah singgah di rumahnya di Banyumanik, mungil, asri, dengan halaman penuh tanaman bunga. Ia menjalani harmoni hidup dengan alam.

Nh. Dini kembali pulang ke Semarang sampai akhir hayat, tanpa mengalami disharmoni dengan kota kelahirannya. Ia mendirikan pondok baca, dan terus mencapai eksplorasi kepenulisannya, meskipun yang lahir dari tangannya berupa seri kenangan, bukan lagi novel. Kota Semarang dalam seri kenangan Pondok Baca, menjelma sebagai latar tempat dalam kurun waktu tertentu dengan suasana tertentu. Lebih jauh dari itu, ia mendeskripsikan kota ini dalam keakraban kekerabatan: sahabat, saudara, dan trah. Kekerabatan ini menjaga harmoni kehidupan dan kreativitasnya. 

Nh. Dini menemukan harmoni kehidupannya dari lingkungan kekerabatan itu, dengan orang-orang, organisasi, dan lingkungan yang memberinya rasa nyaman untuk meneruskan hidup sebagai seorang penulis. Di kota inilah ia menumbuhkan penghargaan pada sesama. Dalam seri kenangan ini, saya lebih banyak menemukan seruan akan keagungan Tuhan, yang menandai pergulatan transendental Nh. Dini. Ia memang menuliskan peristiwa-peristiwa realitas keseharian, konflik-konflik kecil yang diselesaikan dengan kekerabatan, dan konflik batin dituturkan dengan kesalehan religiusitasnya.

Dalam seri kenangan Dari Ngalian ke Sendowo, Nh. Dini mengisahkan peristiwa-peristiwa yang pekat dengan religiusitas. Ia mulai menyadari perjalanan usia di hari tua, dengan perenungan tentang takdir, kematian, dan alam baka. Bahkan ia meneruskan pertanyaan tentang alam baka: ke mana roh (atma) kembali ke akhirat. Ia menjaga kesehatan tubuhnya dengan berzikir. Ia membantu biaya sekolah orang-orang yang kekurangan ekonomi. Dalam seri kenangan ini, ketika tinggal di Ngaliyan, ia merasakan sentuhan-sentuhan humanisme dan sosial di sela-sela kehidupannya sebagai seorang penulis.

 “Tiap hari tiap saat aku berdoa, memohon perlindungan serta kejadian yang baik-baik kepada Yang Maha Kuasa. Namun Dia bertindak dengan cara dan kehendakNya yang enuh misteri. Dia adalah penulis skenario handal yang tak satu pun makhluk bumi dapat mengetahui atau menerka jalan ceritanya. Tiap kali akan melangkah, tiap saat aku berbuat sesuatu, kuteliti dan kutengadahkan wajahku ke langit untuk bertanya: benarkah ini? Namun beberapa kali kualami cobaan yang nyaris mematahkan semangat hidupku. Yang paling akhir adalah runtuhnya rumah idamanku di Griya Pandana Merdeka” (hal. 72).

Dalam La Grande Borne, dalam krisis perkawinan Nh. Dini di Prancis, ia senantiasa mencari pijakan pada ajaran-ajaran ibunya, akar kultur dan spiritualnya. Justru ketika ia berada di tanah rantau, dalam menghadapi kegoncangan perkawinan dan kehidupan, ia senantiasa ingat akan ibu, yang telah memberinya keteguhan jiwa, keagungan kewanitaannya, dengan kekuatan spiritual yang diajarkan dalam lingkungan keluarga, juga ketuhanannya, yang tertanam semenjak ia kecil di kota kelahirannya: Semarang dengan segala pengalaman jiwa yang telah mengikat perkembangan kepribadiannya.

Defamililiarisasi latar kehidupan Kota Semarang dilakukan Nh. Dini justru dalam novel Pada Sebuah Kapal. Ia menghembuskan pengalaman hidup tentang kota kelahirannya dalam novel, yang dikembangkan dengan defamiliarisasi: mengalami pengasingan atau penganehan. Nh. Dini membuka novelnya dengan latar di kampung, pinggir Kota Semarang, tetapi tak disebutnya sebagai wilayah Sekayu. Nh. Dini telah melakukan defamiliarisasi latar yang membiaskan Sekayu sebagai kampung dengan ciri kultur masa kecil tokoh Sri agar ia terhindar dari tradisi mimetik dalam penciptaan karya sastra. Defamiliarisasi deskripsi latar yang melingkupi kehidupan tokoh dengan perkembangan spiritualnya itu justru membangkitkan berbagai makna setting yang memiliki kompleksitas tafsir – inilah yang membedakannya dengan setiap seri kenangan yang ditulisnya.

Dalam novel Pada Sebuah Kapal ini Kota Semarang dengan seluruh atmosfer sosio-kultural di dalamnya meletakkan landasan spiritual tokoh Sri sebagai seseorang gadis yang kelak akan merantau dengan mempertaruhkan segala tata krama, kepribadian, kebudayaan, dan ketangguhan menghadapi tantangan hidup. Tokoh Sri dalam novel ini – yang dapat dipandang sebagai defamiliarisasi sosok Nh. Dini – menemukan kearifan hidupnya dalam perantauan sebagai pramugari justru berpijak dari kehidupan masa kecilnya di Semarang. (*)

Mengenang Nh Dini di Gramedia Pemuda Semarang, Menutup Rangkaian Obituari di 4 Kota

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved