Terseret Sentimen Asing, IHSG Menjadi Indeks dengan Kinerja Terburuk Ketiga di Asia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan terakhir di Februari cenderung melemah.

Terseret Sentimen Asing, IHSG Menjadi Indeks dengan Kinerja Terburuk Ketiga di Asia
KONTAN/Carolus Agus Waluyo
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan terakhir di Februari cenderung melemah. Kemarin, indeks saham bahkan melemah sebesar 1,26 persen dalam sehari. IHSG ditutup di level 6.443,35 pada perdagangan kemarin.

Alhasil, kemarin, IHSG menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk ketiga di kawasan Asia. Indeks saham yang mencatatkan penurunan lebih besar dari IHSG adalah KOSDAQ dan KOSPI, masing-masing sebesar 2,78 persen dan 1,76 persen.

Sentimen dari luar negeri ditengarai membuat investor asing kurang nyaman mengendapkan duitnya di bursa saham dalam negeri. "Pertemuan Trump dan Kim Jong Un gagal mencapai kesepakatan denuklirisasi Korea Utara," ujar analis Panin Sekuritas William Hartanto, Kamis (28/2).

Menurut dia, hal itu membuat investor khawatir hubungan kedua negara kembali memanas dan berimbas pada kondisi politik global. Sehingga, mereka mengamankan asetnya ke instrumen yang lebih aman.

Hal ini tercermin dari aksi jual asing (net sell) yang cukup besar. Kemarin, net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp 1,29 triliun.

Senada, Mino, analis Indo Premier Sekuritas, menilai, indeks tertekan sentimen luar negeri. Tekanan kian besar lantaran ketidakpastian terkait dengan perundingan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali mencuat.

Seperti diketahui, pihak Gedung Putih kemarin memberikan isyarat kesepakatan terkait dengan perang dagang antara AS dan China sulit tercapai.

Alih-alih perang dagang diakhiri dengan kesepakatan, Gedung Putih justru melihat permasalahan keduanya terlalu serius diselesaikan dengan janji dari Beijing untuk mengimpor lebih banyak dari AS.

Dalam negeri

Ditambah lagi, kondisi dalam negeri belum mampu mengompensasi sentimen negatif itu. Dari bursa saham, kinerja ASII meski positif, tetap meninggalkan catatan yang menjadi perhatian investor. “Terutama karena turunnya kontribusi segmen otomotif," jelas Mino.

Untuk periode kuartal keempat tahun lalu, kinerja segmen otomotif ASII mencatat kenaikan pendapatan 13 persen menjadi Rp 27,31 triliun. Tetapi, laba bersihnya turun 34 persen menjadi Rp 1,5 triliun.

Imbasnya, saham ASII tertekan aksi jual. Net sell di saham emiten konglomerasi itu kemarin tercatat mencapai Rp 479,08 miliar. Bahkan, saham ASII menjadi saham pemberat (laggard) terbesar sejak awal tahun.

Sejak awal tahun, saham ASII turun 13,1 persen. Penurunan itu berarti mengurangi bobot indeks sebesar 38,2 poin.

Meski demikian, Mino melihat masih akan ada sentimen positif di sisa tahun ini. Dia mempertahankan target IHSG di level 7.000. (Kontan/Aldo Fernando)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved