Ngopi Pagi

Fokus: Hilangnya Rasa Empati

Perbedaan bisa membuat orang gelap mata. Bagaimana tidak, karena sikap berbeda, orang bisa saling benci, bahkan pada tindakan ekstrem

Fokus:  Hilangnya Rasa Empati
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rustam Aji

Wartawan Triun Jateng

Perbedaan bisa membuat orang gelap mata. Bagaimana tidak, karena sikap berbeda, orang bisa saling benci, bahkan pada tindakan ekstrem bisa saling membunuh.

Tindakan di luar akal sehat sangat mungkin dilakukan karena perbedaan. Sehingga, karena sikap beda, seseorang bisa kehilangan rasa empatinya terhadap orang lain.

Dalam konteks demokrasi, perbedaan dianggap sebagai sebuah kewajaran, termasuk dalam Pemilu. Meski dianggap wajar, namun tak jarang perbedaan dalam pilihan, kadang juga memantik “permusuhan” di luar batas kewajaran. Bahkan, pada beberapa kasus di Indonesia, gara-gara beda pilihan, orang pun bisa diusir, termasuk orang yang sudah meninggal jasadnya juga harus “diusir”. Astaghfirullah!

Itulah realitas yang sedang kita saksikan akhir-akhir ini di perhelatan kontestasi Pemilu 2019. Seolah, masing-masing orang merasa yang paling benar terhadap pilihannya sehingga sampai tega main usir. Padahal, dalam demokrasi, kita diajarkan untuk saling menghormati dalam perbedaan.

Tentu makin miris menyaksikan kondisi tersebut. Rasa empati seolah telah tiada lagi. Kenapa Pemilu yang mestinya menjadi ajang untuk memperkenalkan program, bersilaturahmi, dan menambah kawan, justru menjadi ajang saling benci?

Di mana rasa empati kita sebagai warga Indonesia yang dikenal ramah? Kenapa kita hanya mau menerima “satu golongan” yang sama dengan pilihan kita? Kalau begitu adanya, lalu apa fungsinya Pemilu sebagai ajang demokrasi untuk memilih para pemimpin bangsa ini?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak manakala melihat fenomena kontestasi politik belakangan ini. Sebab, kemampuan untuk berempati merupakan salah satu tanda penting dalam kemanusiaan, bagaimana manusia yang satu ikut mengerti dan merasakan perasaan orang lain.

Sementara, orang yang tidak dapat merasakan ini biasanya dikategorikan sebagai orang yang apatis, narsistik, sosiopat atau bahkan psikopat. Karena senang bila dapat menyiksa orang lain atau malah merasa senang di atas penderitaan orang lain.

Marilah akhiri rasa antipati terhadap orang lain hanya karena sebuah perbedaan dalam pilihan. Tentu akan lebih baik memberi kesempatan orang lain untuk memperkenalkan programnya, daripada main usir. Akan percuma kita bicara toleransi, tetapi pada saat yang sama ternyata kita bersikap tidak toleran terhadap orang lain yang beda pilihan.

Sebab, dalam Pemilu, kita tidak sedang “berperang” yang mengharuskan “melumpuhkan” lawan, namun dalam Pemilu kita sedang belajar demokrasi untuk memilih pemimpin yang memiliki program terbaik untuk memajukan bangsa ini. Salam!

Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved