KONDISI TERKINI! Guguran Awan Panas Material Cair Erupsi Gunung Merapi Meleleh ke Kali Gendol

Bergejolak sejak Maret 2018, Gunung Merapi saat ini berstatus Waspada atau Level 2. Namun, masyarakat yang bermukim di lingkar Merapi yakni di Boyolal

KONDISI TERKINI! Guguran Awan Panas Material Cair Erupsi Gunung Merapi Meleleh ke Kali Gendol
BPPTKG
Telah terjadi 5 kali awanpanas guguran di Gunung Merapi pada pukul 06.05, 06.13, 06.24, 06.25 dan 06.28 WIB dengan jarak luncur maksimum 1 km ke arah Kali Gendol, Senin (18/2/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI -- Bergejolak sejak Maret 2018, Gunung Merapi saat ini berstatus Waspada atau Level 2. Namun, masyarakat yang bermukim di lingkar Merapi yakni di Boyolali, Magelang, dan Klaten masih beraktivitas normal seperti biasa.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi radius 3 kilometer dari puncak agar dikosongkan dari segala aktifitas penduduk.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menuturkan aktifitas Merapi saat ini meningkat, namun belum ada perubahan signifikan. "Masih sama dengan kondisi sebelumnya. Kondisi Gunung Merapi masih belum mengkhawatirkan," kata Hanik.

Pada Sabtu (2/3) dini hari terjadi lagi guguran awan panas sebanyak tujuh kali. Tercatat, awan panas terjadi pada pukul 4.51 WIB, 4.54 WIB, 5.03 WIB, 5.07 WIB, 5.10 WIB, 5.33 WIB, dan 5.40 WIB dengan jarak luncur maksimum dua kilometer atau 2.000 meter.

Setelah guguran awan panas ini, terpantau hujan abu tipis terjadi di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Mobil yang terparkir di depan rumah tampak bintik-bintik putih hujan abu. Hujan abu terjadi setelah guguran awan panas sekitar pukul 07.00 WIB.

Guguran awan panas juga terjadi pada Sabtu malam sekitar pukul 20.45 WIB dengan jarak luncur sekitar 1.300 meter. "Semua awan panas guguran menuju ke hulu Kali Gendol," jelas Hanik.

Dengan aktivitas seperti itu, pihaknya mengimbau masyarakat tidak berkegiatan di jarak 3 kilometer dari puncak. Wilayah tersebut menjadi kawasan rawan bencana tiga. Pihaknya juga melarang aktivitas pendakian.

Meskipun awan panas guguran masih memiliki jarak luncur yang masih relatif pendek, masyarakat diminta tetap waspada dan tetap tenang. "Beraktifitas sepeti biasa. Namun, tetap perhatikan Merapi dan mewaspadainya," tegasnya.

Banjir lahar dingin juga harus diwaspadai masyarakat jika hujan deras melanda daerah sekitar Merapi.

Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Merapi Jrakah Boyolali, Tri Mujianta, menuturkan peningkatan aktivitas Merapi kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. "Erupsi kali ini bersifat efusif bukan eksplosif. Tidak seperti tahun 2010 yang bersifat eksplosif," jelas Tri.

Halaman
1234
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved