Micro Sleep Picu Kecelakaan Lalulintas Fatal di Jalan Tol Trans Jawa, Ini Solusi Djoko Setijowarno

Micro sleep bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja, termasuk saat di Jalan Tol Trans Jawa. Itu menjadi pemicu kecelakaan lalulintas fatal.

Micro Sleep Picu Kecelakaan Lalulintas Fatal di Jalan Tol Trans Jawa, Ini Solusi Djoko Setijowarno
Tribunjateng.com/Budi Susanto
Petugas dari Satlantas Polres Pekalongan menunggu datangnya alat berat untuk mengevakuasi truk yang terguling di kilometer 335 tol Pemalang-Batang, Sabtu (29/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Micro sleep bisa terjadi pada siapa saja, dan hal tersebut sangat berbahaya jika terjadi pada pengemudi kendaraan saat melakukan perjalanan jauh karena menjadi pemicu kecelakaan fatal.

Hal itu diungkapkan pengamat transportasi dan juga Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno.

Micro sleep adalah, tidur sesaat antar 4 hingga 5 detik terjadi karena pengemudi kelelahan.

"Jika hal tersebut terjadi kepada pengguna jalan saat berkendara, dan manjadi potensi terjadinya kecelakaan fatal," jelasnya, Senin (4/3/2019).

Diterangkannya untuk mengantisipasi terjadinya kelelahan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, pengemudi harus beristirahat setelah berkendara selama 4 jam.

"Apalagi saat menempuh perjalanan jauh seperti saat melintas Jalan Tol Trans Jawa, jalan dalam kondisi halus dan nyaman jika teledor dan kurang waspada bisa berujung maut," paparnya.

Selain menjaga kondisi tubuh, guna menekan angka kecelakaan di jalan bebas hambatan karena kendaraan melaju di kecepatan tinggi, pihaknya menyarankan agar pemerintah memasang kamera pemantau kecepatan atau speed camera di Jalan Tol Trans Jawa.

"Kamera tersebut untuk memantau jika ada kendaraan yang melanggar, selain melebihi kecepatan juga untuk kendaraan yang kurang dari batas minimal kecepatan yang sudah ditetapkan, untuk memberi sanksi kepada pelanggan paraturan sesuai Peraturan Menteri (PM) Perhubungan 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan," jelasnya.

Edukasi terhadap pengemudi kendaraan pribadi, angkutan barang dan penumpang dianggap perlu oleh Djoko agar memprioritaskan keselamatan berkendara dari pada kecepatan.

"Keselamatan harus diutamakan dalam berkendaraan, perlu doktrin baru dari pemerintah ke masyarakat terkait keselamatan berkendara, agar bisa menggunakan jalan tol lebih aman, lancar dan nyaman. Sementara edukasi kecepatan bukan menjadi tolak ukur keberhasilan," tambahnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved