Kelanjutan Kasus Ahmad Dhani Kangen Sang Putri

Musisi Ahmad Dhani, terdakwa kasus pencemaran nama baik yang diadili di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, kembali membuat surat.

Kelanjutan Kasus Ahmad Dhani Kangen Sang Putri
KOMPAS.COM/TRI SUSANTO SETIAWAN
Ahmad Dhani saat menghadiri sidang pembacaan putusan pengadilan kasus ujaran kebencian di PN Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA - Musisi Ahmad Dhani, terdakwa kasus pencemaran nama baik yang diadili di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, kembali membuat surat.

Kali ini Ahmad Dhani menuliskan surat untuk anaknya El Jalaludin Rumi yang sedang menempuh pendidikan di Inggris.

Surat tersebut beredar saat Ahmad Dhani menjalani sidang lanjutan di PN Surabaya, Selasa (5/3). "El, ayah di rutan baik-baik saja. Di sini ayah malah punya kesempatan banyak doa untuk kamu dan keluarga," tulis Ahmad Dhani.

Selanjutnya, pentolan grup band Dewa 19 itu menyebut dirinya berada dalam tahanan bukan untuk menjalani hukuman (vonis). "Berbeda dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI). Ahok dipenjara karena dia menjalani vonis karena dia tidak melakukan upaya banding," katanya.

Selanjutnya Dhani menyebut pada kasus Ahok itu melanggar Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). "Kasus Ahok itu mengancam keamanan negara (lihat masifnya 411 dan 212). Sedangkan pasal yang dikenakan kepada ayah itu pasal 28 UU ITE itu pasal karet. Tidak ada subyek hukum yang disebut, tidak mengancam siapapun, dan korbannya pun nggak ada," katanya.

Menurutnya, Ahok menjalani hukuman di tempat istimewa, sedangkan dirinya di penjara di tempat yang sah menurut undang-undang. Penahanan selama 30 hari dilakukan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, yang kemudian diperpanjang 60 hari.

"El, ayah menangis di PN Surabaya karena adik mu *Feea* selalu bertanya terus kapan ayah pulang? Karena dia mau berulang tahun yang ke-8 bersama ayah seperti yang sudah lama kita rencanakan," tambahnya .

Diungkapkan, perasaan itu hanya dimiliki oleh laki-laki yang punya anak perempuan. "Kamu nanti juga akan punya perasaan yang sama jika kamu di anugerahi anak perempuan," ujar Dhani menutup suratnya.

Persidangan kali ini memeriksa empat saksi, dua di antaranya anggota Koalisi Bela NKRI yakni Rudi Rosyadi dan Syuhada. Sedangkan dua lainnya karyawan Hotel Majapahit, Reza Ardiansyah dan Rahmat.

Budi dan Syuhada mengaku tersinggung atas kalimat `idiot' yang dilontarkan Dhani dalam video. "Saya tersinggung, orangtua saya biayai saya hingga pendidikan tinggi. Seingat kami yang melakukan demo dikatakan ini idiot," ujar Budi di hadapan majelis hakim diketuai Anton Widyopriyono.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved