Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Faktor Penting Peluang Tumbuhnya Startups di Semarang Smart City

Perkembangan bisnis startup di Indonesia bisa dikatakan cukup pesat dan menggembirakan.

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: abduh imanulhaq
IST
Kampus Universitas Nasional Karangturi 

Oleh: Flemming Panggabean, MBA, Ph.D. (Candidate), Dosen Manajemen Universitas Nasional Karangturi

ISTILAH smart city atau kota cerdas adalah pengembangan kota berbasis tekonologi informasi. Dimana pengelolaan kota dan komunitas masyarakat yang ada di dalamnya, berkolaborasi dengan memanfaatkan informasi dan komunikasi sebagai fondasi untuk mencari solusi tepat, sesuai dengan persoalan yang dihadapi.

Semua ini ditujukan demi meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dengan memberikan kemudahan-kemudahan, khususnya dari segi tata kelola pemerintahan hingga pelayanan lainnya.

Konsep smart city sendiri banyak mendapat perhatian baik di kalangan akademisi maupun bagi para pemimpin berbagai negara di dunia yang berlomba lomba menjadikan kota-kota di negaranya menjadi lebih cerdas dan lebih optimal di dalam melayani masyarakat.

Misalnya saja kota Copenhagen Denmark, Amsterdam Belanda, Dubai, Tokyo Jepang, Singapura, Seoul Korea Selatan, Taipei Taiwan.

Perancangan konsep smart city di kota-kota besar ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tinggal di dalam kota, mengingat kebutuhan manusia yang sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan pengetahuan yang penyebarannya sangat cepat dan mudah didapatkan di era digital berkat kehadiran internet.

Flemming Panggabean, MBA, Ph.D. (Candidate)
Dosen Manajemen Universitas Nasional Karangturi
Flemming Panggabean, MBA, Ph.D. (Candidate) Dosen Manajemen Universitas Nasional Karangturi (IST)

Kehadiran smart city ini juga merupakan sebagai bagian dari upaya memberikan kemudahan, ketepatan dan kepercayaan bagi warga masyarakat termasuk para pelaku usaha dalam memulai usaha startup.

Sebuah tesis seorang mahasiswa dari Universitas Hellbron Jerman, Victor Medina-Conessa mengungkapkan bahwa perkembangan minat untuk berwirausaha selaras dengan melesatnya teknologi digital yang ada di kota cerdas.

Sebagai contoh, Kota Cleveland pada tahun 2017 meluncurkan inisiatif $ 25 juta untuk memperbaiki lingkungannya dengan memanfaatkan investasi swasta untuk mencoba menarik startup teknologi.

Satu perusahaan yang langsung berminat memanfaatkan komitmen “Cleveland Smart City” yaitu perusahaan startup perangkat lunak inTouch. Perusahaan ini mengembangkan aplikasi ponsel cerdas yang menggunakan sensor kota pintar.

Beberapa kota di Indonesia sudah mengadopsi dan menerapkan konsep ini, salah satunya adalah Kota Semarang.

Di Kota Semarang sendiri, perjalanan menuju “Semarang Smart City” ini mulai serius digarap sejak 2013.

Keseriusan dan komitmen ini terus diwujudkan untuk menjawab berbagai permasalahan wilayah Kota Semarang dan yang memiliki benang merah langsung dengan kondisi Kota Semarang.

implementasinya dapat dilihat pada sistem pelayanan online yang meliputi konsep systemic (terhubung sistem), monitorable (dapat dipantau), accessible (mudah diakses), reliable (dapat dipercaya), serta time bound (batasan waktu).

Tujuannya masih lebih pada fokus meningkatkan taraf kehidupan setiap masyarakat dengan memberikan kemudahan-kemudahan khususnya dari dari segi tata kelola pemerintahan hingga pelayanan lainnya.

Di beberapa negara yang kotanya telah memulai pengembangan konsep dan instrastruktur smart city menyadari bahwa keberadaan smart city ini dapat menjadi magnit bagi bermunculannya pelaku-pelaku usaha di era disrupsi dan revolusi industri 4.0.

Makanya, para pemimpin kota smart city hendaknya membuat diri mereka tersedia bagi para startupers di bidang teknologi digital dan mengundang mereka untuk terlibat dalam diskusi dan berkolaborasi dalam membangun ekosistem smart city dan peluang kewirausahaan.

Hal ini dikarenakan di era baru teknologi digital dan era disrupsi ini, kota membutuhkan startupers dan startupers membutuhkan kota untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam menjalankan bisnis.

Faktor kedua yang perlu diperhatikan adalah disain kota yang hendaknya mempromosikan tiga nilai inti - livability, workability, dan sustainability, sehingga dapat membuka lebih banyak ruang untuk kewirausahaan kreatif.

Livability mengacu pada fasilitas fisik yang mengarah pada kualitas hidup yang lebih baik. Kualitas hidup ditingkatkan di kota-kota cerdas melalui peningkatan mobilitas dan akses.

Workability adalah kemampuan kerja terkait dengan konektivitas, akses, transportasi, dan teknologi.

Sementara itu, sustainability merupakan konsep keberlanjutan yang mengacu pada kehidupan berdampak rendah dan penggunaan sumber daya yang efisien.

Faktor ketiga adalah kepemimpinan. Demi mewujudkan smart city, tidak hanya dibutuhkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mumpuni, tetapi juga pemimpin yang berkomitmen penuh untuk melayani warganya.

Karenanya, para pemimpin kota yang menerapkan program smart city ini dituntut cerdas dan terus melakukan inovasi agar penerapan program kota cerdas ini dapat sesuai dengan tujuannya dan dapat pula meningkatkan kepercayaan dari masyarakat serta para pelaku usaha.

Dalam pertemuan “ASEAN Smart City Network (ASCN)” tahun 2018 lalu, negara Singapura malah sudah menyampaikan suatu saran menarik yaitu pemilihan untuk seorang Chief Smart City Officer - CSCO (seperti pimpinan dalam organisasi lain seperti CEO, CXO, CIO hingga CFO) sebagai pemimpin atau koordinator kota cerdas.

Meski secara tegas belum didapatkan dalam suatu definisi tetapi mengikuti dengan kepemimpinan lain, diharapkan seorang CSCO diharapkan bisa memimpin perubahan pembangunan atau pengelolaan kota menjadi lebih cerdas.

Di samping harus mampu memahami kondisi nyata dan dinamika kota, seorang Chief Smart City Officer juga harus mampu pula berkolaborasi melakukan inovasi, integrasi, investasi hingga interaksi dalam pengelolaan kota secara cerdas sehingga yang diharapkan nantinya adalah terbentuknya ekosistem smart city yang menjadi magnit munculnya para startupers di “Semarang Smart City”.

Peran Universitas Dalam Menumbuhkan Startupers

Perkembangan bisnis Startup di Indonesia bisa dikatakan cukup pesat dan menggembirakan. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak founder (pemilik) Startup baru bermunculan.

Namun demikian, tidak sedikit startup gagal, karena minimnya pengetahuan tentang mengelola startup.

Oleh sebab itu, pengetahuan di bidang manajemen bisnis dan inovasi menjadi dasar fondasi yang penting dalam melahirkan ide-ide cemerlang baru, membuat pemodelan bisnis yang inovatif dan mengelola agar startup dapat tetap berkelanjutan (sustainable).

Universitas Nasional Karangturi (UNKARTUR) sebagai bagian dari Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi, merupakan universitas baru di Kota Semarang yang berkomitmen untuk turut berperan andil dalam menciptakan ekosistem wirausaha startup di Kota Semarang.

Dengan “roh” kewirausahaan yang diwarisi dari para pendiri dan alumninya, UNKARTUR membentuk program studi manajemen yang membuka diri dan mengikuti perubahan yang ada dengan tetap memegang teguh “roh” kewirausahaan.

Program Studi Manajemen UNKARTUR berdedikasi untuk membentuk generasi muda dan melatih serta memberi motivasi kepada mahasiswanya sehingga menjadi generasi cerdas, mandiri, kreatif, inovatif dan mampu membuat peluang usaha.

Karenanya, UNKARTUR Business Immersion Program menjadi program unggulan yang ditawarkan kepada mahasiswa progdi manajemen.

Kegiatan UNKARTUR Business Immersion Program meliputi sharing pengetahuan dan pengalaman dari Owner dan atau CEO dari sebuah perusahaan (CEO Speech) alumni Karangturi, industry immersion yang terdiri dari kegiatan kunjungan perusahaan (company visits), kemah bisnis nasional (national business camp), serta kunjungan internasional ke tempat wisata yang bersejarah dan memiliki aktivitas bisnis (International excursions).

Harapannya, melalui program tersebut, dapat membangkitkan inspirasi mahasiswa untuk menanamkan pola piker seperti seorang entrepreneur dan melatih kemampuan melihat peluang, kreativitas, dan mengembagkan jejaring bisnis yang dimiliki oleh mahasiswa.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved