Survei Pengeluaran Penduduk Kudus 2018 : Pengeluaran untuk Beli Rokok Masih Tinggi

Di dalam suvei ini, ada dua jenis pengeluaran, yaitu untuk kelompok makanan dan nonmakanan

Survei Pengeluaran Penduduk Kudus 2018 : Pengeluaran untuk Beli Rokok Masih Tinggi
ilustrasi rokok(shutterstock) 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Pengeluaran penduduk Kabupaten Kudus sepanjang 2018 menghitung bahwa untuk kepentingan beli rokok terbilang tinggi jika dibandingkan dengan komoditas lain yang mengandung protein dan kalori. Hal itu sesuai dengan hasil survei kesejahteraan rakyat Kabupaten Kudus 2018.

Di  dalam suvei ini, ada dua jenis pengeluaran, yaitu untuk kelompok makanan dan nonmakanan. Pengeluaran untuk rokok masuk dalam kelompok makanan meski tidak ada sumbangsih kalori dan protein.

“Rokok dimasukkan ke dalam survei karena bagian dari pengeluaran oleh masyarakat,” kata Kepala BPS Kudus, Rahmadi Agus, Jumat (8/3/2019).

Dalam survei kali ini, baik makanan maupun nonmakanan dibagi atas tiga kelompok pengeluaran. Pertama kelompok 40 persen pengeluaran terendah, 40 persen pengeluaran menengah, dan 20 persen pengeluaran teratas.

Pada kelompok makanan pada 40 persen pengeluaran terbawah, rokok menduduki urutan ketiga setelah pengeluaran untuk makanan minuman jadi, dan padi-padian.

Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi terhitung Rp 79.331 per bulan per kapita, kemudian untuk padi-padian terhitung Rp 36.225 per bulan per kapita, dan untuk rokok Rp 21.039 per bulan per kapita.

Sedangkan untuk kelompok makanan pada 40 persen pengeluaran menengah, rokok menduduki urutan kedua setelah pengeluaran untuk komoditas makanan dan minuman jadi.

Pada kelompok ini makanan dan minuman jadi pengeluaran mencapai Rp 177.637 per bulan per kapita, disusul pengeluaran rokok sebanyak Rp 62.859 per bulan per kapita.

“Pada kelompok pengeluaran 20 persen teratas juga demikian, rokok menduduki urutan kedua setelah pengeluaran untuk komoditas makanan dan minuman jadi.  Pada kelompok ini, pengeluaran makanan dan minuman jadi Rp 302.426 per bulan per kapita, disusul pengeluaran rokok Rp 85.854 per bulan per kapita,” jelas Rahmadi Agus.

Dari survei tersebut sudah jelas, bahwa pengeluaran untuk rokok lebih banyak dari pada pengeluaran untuk komoditas lainnya yang mengandung kalori dan protein. Misalnya pengeluaran untuk daging, telur, susu, dan ikan.

“Di tiga jenis kelompok pengeluaran, untuk pengeluaran daging, telur, susu, dan ikan masih di bawah pengeluaran untuk rokok,” jelasnya.

Selain pengeluaran untuk makanan, survei ini juga menghitung pengeluaran untu keperluan nonmakanan. Misalnya pengeluaran untuk perumahan maupun fasilitas rumah tangga, pengeluaran untuk kebutuhan aneka barang dan jasa, pakaian, pajak, dan lain-lain.

“Untuk pengeluaran nonmkananan, di tiga kelompok pengeluaran paling tinggi yaitu untuk pengeluaran perumahan dan fasilitas rumah tangga,” katanya. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved