Opini Maya Harsasi : Menanti Reog Mampir di Ruang Kelas
Kalau Anda mengiraReogyang dimaksud adalahReogPonorogo, Anda sama naifnya dengans aya, yang mengira bahwa satu-satunyaReoghanya di Ponorogo
Oleh Maya Harsasi
Mahasiswa Pascasarjana UNNES
Kalau Anda mengiraReogyang dimaksud adalahReogPonorogo, Anda sama naifnya dengans aya, yang mengira bahwa satu-satunya Reoghanya di Ponorogo, JawaTimur. Padahal istilah reog pada masyarakat di gugusan lima gunung (Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbing, danSindoro) jamak untuk menyebut tarian kuda lumping dengan bumbu mistis yang kental. Dengan variasi antardaerah yang berbeda-beda. Namun, ketika perbedaan-perbedaan ini ditanyakan ke masyarakat yang bersangkutan, apalagi anak sekolah, lebih banyak yang tidak tahu karena mereka hanya jadi penonton.
Pun saat ditanya tentang keberadaan candi Klero di Kabupaten Semarang, yang beberapa fotonya terpampang di internet. Letaknya hanya sekitar 500 meter dari tepi jalan raya Semarang-Solo. Sebagian besar anak-anak sekolah di Kabupaten Semarang banyak yang tidak tahu. Padahal, mereka malah sudah pernah mengunjungi Candi Prambanan, Borobudur, atau bahkan situs Majapahit di Trowulan: atas nama pembelajaran.
Belum lagi jika ditanya tentang situs Senjoyo. Di internet sering disebut berada di Salatiga, padahal aslinya di Kabupaten Semarang. Atau, tentang motif batik khas Kabupaten Semarang yang malah sudah melanglangbuana. Belum lagi jika berbicara tentang permainan khas daerah, kuliner:tumpang koyor, serabi kucur, bakwan jembak, dan banyak hal-hal lain yang sering ditemui dalam keseharian. Terlihat remeh namun itulah budaya.
Sayangnya penggalian budaya-budaya lokal ini hanya tenar di penggiat budaya. Di sekolah,praktiknguri-ur ibudaya hanya berkiblat pada instruksi dari pemerintahan yang bersifat sangat umum. Contohnya kebijakan menggunakan bahasa daerah setiap hari Kamis atau mengembangkan sikap kesantunan sebagai bagian dari budaya daerah. Paling banter, ada ekstra kulikuler seperti tari atau karawitan (di Jawa Tengah). Maka sekolah pun sudah menisbatkan dirinya sebagai sekolah yang turut melestarikan budaya.
Padahal ada banyak budaya lokal yang belum tersentuh. Beberapa anak mungkin mahir membawakan beberapa tarian daerah. Tetapi saat ditanya kuliner yang khas di daerahnya, mulai kebingungan. Karena kuliner khas yang mereka kenal hanya sebatas yang tertera di buku pelajaran. Apalagi kalau ditanya tentangkenduriuntuk pernikahan, kematian atau hajatlain, yang antardesa bertetangga saja bisa berbeda.
Salahkan instruksi itu? Pemerintah melayani area yang luas. Sementara keanekaragaman budaya kita sangat luar biasa. Sama-sama Jawa Tengah, antaradaerah Banyumasan, daerah Pantura, dan daerah sekitar Solo berbeda. Yang paling kentara dari segi dialek.
Belum yang lain.Sehingga dalam praktiknya instruksi itu harus diperkaya dengan kekhasan lokal setempat, bukan sekadar yang tertera di kurikulum. Imbasnya, harus ada perubahan pola pikir. Bahwa pelestarian budaya adalah sebuahgawebesar.Yang tidak bisa dipikul oleh satu atau dua pihak, melainkan sinergi dari pihak terkait. Kalau sekolah sudah menyediakan diri untuk turut menggali budaya lokal, maka masyarakat setempat seharusnya mudah dimintai informasi. Begitu juga pemerintah daerahnya.
Sebuah pertanyaan yang mengemuka adalah, “Mengapa sekolah perlu repot-repot dalam pelestarian budaya?” Jawabannya terletak pada definisi pendidikan itu sendiri. Pendidikan pada hakikatnya adalah transformasi budaya. Agar manusia dapat bersosialisasi dalam masyarakatnya dan memiliki bekal dasar untuk mempertahahankan kelangsungan hidup.
Dan sekolah sebagai institusi pendidikan formal, memiliki posisi strategis karena generasi muda menghabiskan sebagian besar usia di sekolahnya. Jika penggalian budaya lokal di sekolah berhasil dengan baik, kesadaran mereka untuk ikut terlibat dalam menjaga dan melestarikan budaya pun akan muncul dengan sendirinya.
Penggalian budaya lokal dimulai dengan mengambil objek budaya yang sekiranya cocok dengan materi pelajaran yang sedang diberikan. Kalau sekolah menetapkan untuk mengambil candi menjadi bahan kajian, maka candi itu harus dapat ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sejarah membantu peserta didik untuk menyelidik iasal muasal candi itu. Matematika membantu mereka menyelidiki ketinggiannya. DenganT rigonometri kalau untuk anak SMA. Atau, minimal mengukur luasnya dan volume batu yang digunakan. Biologi membantu peserta didik menyelidiki iklim setempat. Melalui vegetasi yang ada di sekitar candi. Atau,bahkan bisa sampai meneliti pengaruhnya terhadap keutuhan candi. Bahasa Indonesia mengajarkan cara untuk membuat laporannya dalam bentuk teks deskriptif yang menarik. Bahasa Inggris bertugas mengalihbahasakan. Pelajaran seni berperan dalam cara mengambil gambar yang baik. Bahka njika perlu dibuat menjadi sebuah film dokumenter.
Jika hasil semua itu didokumentasikan dalam bentuk buku kemudian didokumentasikan di perpustakaan, tentu akan sangat menarik. Selama ini, penggalian budaya lokal selalu terbentur dengan ketiadaan referensi. Buku tentang tradisi sekaten mudah diperoleh. Tetapi untuk objek lokal yang nilaijualnya kurang, hampir dipastikan tidak akan ada penerbit yang melirik. Nah, buku-buku hasil pekerjaan anak ini dapat menjembatani hal ini. Turutmengawetkanbudaya lokal yang selama ini hanya tersimpan dari cerita turun temurun saja.
Akan lebih baik lagi jika objek budaya yang digali selalu berganti setiap tahun. Untuk menjamin penggalian informasi yang lebih kaya dan lebih mendalam, serta menyediakan pilihan untuk memilih karya terbaik yang layak didokumentasikan di perpustakaan.
Akhirnya, kita bisa memimpikanreoghadir di ruang kelas. Bukan untuk menjadikan seluruh siswa pandai memainkanreog melainkan memahami secara detail tentang tarian khas itu, dari berbagai latar belakang sosio-kultural yang melingkupinya. Mengkajinya dengan sudut pandang keilmuan, untuk menjaga agar tradisi tidak berkembang ke arah yang tidak semestinya. Dan yang terpenting, memastikan agar budaya ini tidak lekang digerus zaman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/maya-harsasi.jpg)