Syaefudin Kaget Telapak Kakinya Bengkak

Awal 2017, Syaefudin (60) merasakan sesuatu yang berbeda di kaki kanannya. Telapak kakinya membengkak.

Syaefudin Kaget Telapak Kakinya Bengkak
iStockphoto / Tharakorn
7 kebiasaan harian yang menyebabkan gagal ginjal 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Awal 2017, Syaefudin (60) merasakan sesuatu yang berbeda di kaki kanannya. Telapak kakinya membengkak. Tak berselang lama, kaki kirinya juga ikut membesar. Otot kakinya seperti ditarik. Untuk berjalan pun sulit. Dia tidak merasakan apapun kakinya menginjak apa.

"Kaki seperti melayang. Seperti tidak menapak. Akhirnya saya pergi ke pengobatan alternatif," kata warga Jalan Klentengsari Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang itu.

Dari terapi pijat hingga meminum obat nonkimiawi pun dilakoninya setiap hari agar sembuh. Menjalani pengobatan alternatif selama kurang lebih enam bulan, pria yang bekerja sebagai wiraswasta itu merasa tidak ada perubahan yang signifikan.

Ia pun memeriksakan dirinya ke tempat praktik dokter pribadi. Dari keterangan dokter yang didatangi tidak ada yang mengatakan secara pasti penyakit yang dialami. Ada yang mengatakan asam urat kronis, diabetes dan sebagainya. Meskipun sudah minum obat dari dokter, tidak ada perubahan yang dirasa. Dua bulan setelahnya, dia merasakan lemas, wajahnya pucat pasi dan sedikit putus asa. Ayah tiga anak ini pun drop.

"Akhirnya saya berobat di rumah sakit. Dokter mengatakan saya mengalami gagal ginjal, setelah menjalani proses pemeriksaan. Kaki bengkak itu ternyata tanda saya menderita gagal ginjal," ucapnya.

Dia bilang, saat itu tensi darahnya tinggi 210/120. Jumlah kreatinin-nya juga tinggi, mencapai 35. Kreatinin merupakan produk limbah kimia hasil kerusakan jaringan otot. Kreatinin seharusnya disaring melalui ginjal.
Pada orang normal, kreatinin di tubuhnya berjumlah 0. Karena fungsi ginjalnya menurun, kadar kreatinin pun meninggi. Dokter menyarankan untuk hemodialisis atau cuci darah. Mendengar kata cuci darah dari dokter, Syaefudin pun kembali drop.

"Saya sering mendengar kalau orang cuci darah itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Ketika dokter ngomong saya harus cuci darah, terus terang, ada rasa takut," ujarnya.

Selain cuci darah, dia juga harus menjalani diet ketat pola makan untuk menurunkan berat badannya yang dinilai kurang proporsional. Berat badan mempengaruhi lama cuci darah yang dijalani. Selain itu, dia hanya diperbolehkan minum cairan tiga gelas setiap harinya. Hal itu agar kerja ginjal yang sudah tidak seutuhnya normal itu tidak terlalu memforsir.

Hingga saat ini, dia masih menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam sepekan. Ada perubahan yang signifikan setelah menjalani terapi hemodialisis. Kadar kreatinin-nya turun menjadi 3. Meskipun sejak menerima vonis gagal ginjal dirinya belum bisa menerima kenyataan itu, dia berusaha dengan optimis melakukan apa saja yang dikatakan dokter demi kesembuhannya.

Setelah diteliti lebih jauh, ternyata penyakit ginjal kronis ini diduga disebabkan obat asam urat yang sering dikonsumsi Syaefudin. "Itu dokter katanya herbal. Tapi dokter memang mengatakan ada campuran kimia. Memang kalau setelah minum obat itu, asam urat langsung sembuh. Setiap kena (asam urat), saya pasti minum obat itu," ucapnya.

Dia mengaku saat ini dia hanya fokus melakukan penyembuhan hingga sehat dan terus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Alasan anak dan cucu yang membuatnya tetap bertahan dan memiliki semangat untuk hidup. Dia berharap satu hari nanti dia akan sembuh dan tidak lagi menjalani cuci darah. Syaefudin merupakan satu dari sekian banyak penderita di Jawa Tengah yang melawan gagal ginjal. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved