Rencana BEI Menjadikan Kartu Kredit Sebagai Alat Pembayaran Dinilai Berisiko

Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikan kartu kredit sebagai alat pembayaran investasi saham menuai kritik. Kebijakan itu dinilai terlalu berisi

Rencana BEI Menjadikan Kartu Kredit Sebagai Alat Pembayaran Dinilai Berisiko
net
ilustrasi kartu kredit 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikan kartu kredit sebagai alat pembayaran investasi saham menuai kritik. Kebijakan itu dinilai terlalu berisiko.

Perencana Keuangan Financia Consulting, Eko Endarto mengatakan, membeli saham dengan menggunakan kartu kredit dinilai kurang bijak. Sebab, bunga kartu kredit sifatnya tetap, berkebalikan dengan keuntungan dari instrumen saham yang tak selalu sama setiap bulan.

"Idealnya, beli saham pakai dana menganggur atau memang dana yang sengaja disisihkan," ujarnya, Selasa (19/3).

Senada, Analis Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih menyatakan, tingkat bunga kartu kredit yang mencapai 36 persen dapat menambah risiko ketika bermain saham yang sudah berisiko. "Bermain saham sudah berisiko, ditambah bunga yang tinggi membuat hal ini semakin berisiko," imbuhnya.

Investor saham, Irwan Ariston Napitupulu juga sepakat. Ia menyarankan, sebaiknya masyarakat jangan dibiasakan berinvestasi dengan pola pikir berhutang, karena hanya akan menambah risiko.

Lain halnya dengan rencana penghapusan batas saham Rp 50 atau saham gocap. Menurut Irwan, efek dari kebijakan itu lebih ke sisi psikologis investor.

"Kemungkinan, banyak saham yang menyentuh Rp 1 jika batas tersebut dibuka. Tapi, setidaknya investor masih bisa menjualnya di pasar reguler," ujarnya.

Kurangi keterbatasan

Adapun, BEI terus mengkaji kemungkinan kartu kredit sebagai satu alat pembayaran investor. Harapannya, keterbatasan akses investor masuk ke pasar modal bisa dikurangi dengan adanya kebijakan yang diharapkan bisa dijalankan tahun ini.

"Tapi, itu bukan beli saham secara langsung, melainkan untuk pembelian reksadana," ujar Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi.

Sehingga, secara tidak langsung, saat investor membeli reksadana, dananya juga digunakan untuk membeli saham. "Jadi, enggak ada alasan bagi investor untuk menunda-nunda investasi," imbuhnya.
Proses kajian yang dilakukan BEI juga melibatkan pendapat dari berbagai pemangku kepentingan. Dengan begitu, harapan Inarno, saat kebijakan itu diterapkan bisa menarik minat investor lebih banyak lagi untuk masuk ke pasar modal.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengaku siap mengimplementasikan kebijakan tersebut. "Kami lebih menunggu di reksadana. Kami menunggu aturan pastinya keluar," ucapnya.

Rudyanto tak menampik adanya risiko jika investor bertransaksi menggunakan kartu kredit. Yang penting, menurut dia, pemegang kartu kredit harus bertanggung jawab dalam penggunaannya.

"Kartu kredit itu bisa dimanfaatkan sebagai alat pembayaran, bukan alat berutang," tegasnya. (Kontan/Intan Nirmala Sari/Vendy Susanto/Kenia Nareriska)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved