OPINI Urip Triyono : Pendidikan Berkebudayaan: Utopis?

Proses pendidikan sejatinya adalah proses mendidik manusia agar lebih meningkat derajat kemanusiaannya.

OPINI Urip Triyono : Pendidikan Berkebudayaan: Utopis?
bram
Urip Triyono 

Urip Triyono, S.S., M.M. Pd.

Pengamat dan praktisi pendidikan, tinggal di Brebes. Sekretaris MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Brebes

Proses pendidikan sejatinya adalah proses mendidik manusia agar lebih meningkat derajat kemanusiaannya. Pendidikan menggarap aspek kemanusiaan secara utuh, baik aspek fisik maupun mental-kejiwaan melalui proses yang terencana dan terukur, bukan asal-asalan.

Sisi-sisi positif kemanusiaan diangkat dan dieksplorasi, sedangkan sisi-sisi negatif diisolasi dan dieliminir. Dengan proses eksplorasi akan didapat sifat-sifat positif peserta didik, mengatasi sisi negatif yang selama ini mentupi derajat kemanusiaannya berubah menjadi pribadi yang memiliki nilai-nilai keunggulan, kompeten, dan dapat diandalkan.

Nilai

Pendidikan apa pun jalurnya, baik formal  maupun non formal adalah proses transfer nilai-nilai dari guru, instruktur, maupun orang tua kepada anak-anak sebagai peserta didik. Nilai-nilai inilah yang akan ditanamkan dan diimplementasikan dalam diri peserta didik agar menjadi generasi yang dapat diharapkan pada masa yang akan datang.

Pemahaman terhadap nilai-nilai inilah yang menjadi penekanan proses pendidikan, bagaimana para pendidik dapat memberikan pemahaman yang ideal terhadap nilai sebuah barang atau ide dalam kehidupan.

MenurutUndang-undang No.20 Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalahusaha sadar dan terencanauntukmewujudkan suasana belajardanprosespembelajaranagar peserta didiksecara aktif mengembangkan potensi dirinyauntukmemiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara.

Menilik dari substansinya, maka garapan pada nilai kemanusiaan dengan berbagai aspeknya menjadi tujuan, bukan membangun fisik yang penuh penipuan.Membangun manusia menjadi fokus dari tujuan pendidikan dengan bersendikan pada nilai-nilai luhur yang sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa.

Pasca gerakan Reformasi 98, keberadaan nilai-nilai luhur bangsa semakin luntur.Satu sisi karena nilai-nilai luhur yang terkristalisasi dalam bentuk Pancasila itu sangat dekat dengan eksistensi Orde Baru, orde yang berjaya selama kurang lebih 32 tahun. Namun pada sisi yang lain, tumbangnya Orba menuntut perlunya revitalisasi dan reorientasi nilai-nilai Pancasila ke depan, terutama dalam menghadapi perubahan zaman yang serba cepat. Karena sistematika nilai dalam Pancasila tidak mungkin diubah, maka landasan konstitusilah yang akhirnya diamandemen dengan asumsi agar lebih njamani (up to date).Secara fisik tata nilai dalam Pancasila tidak berubah, namun dalam praktek kenegaraan sedikit banyak telah menyimpang.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved