Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kepala Dinkop UMKM Jateng Ungkap Beberapa Hal yang Perlu Diperbaiki Bagi Pelaku UMKM

Jadi di Jateng paling banyak adalah usaha Mikro, sekitar 4,5 juta-4,6 juta adalah usaha Mikro

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Desta Leila Kartika
Kepala Dinkop UMKM Jateng, Ema Rahmawati, saat memberikan sambutan pada acara "Bincang Bisnis" Tribun Jateng bersama HP. Berlokasi di Borobudur Ballroom, Hotel Santika Primiere Semarang, Sabtu (23/3/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berdasarkan hasil survey BPS tahun 2017 pelaku UMKM besar di Jateng sekitar 4,8 juta. Kemudian 98,8% nya adalah pelaku UMKM kecil, dari 98,8% tersebut 90% adalah usaha Mikro.

Jadi di Jateng paling banyak adalah usaha Mikro, sekitar 4,5 juta-4,6 juta adalah usaha Mikro.

Berbicara mengenai Usaha Mikro, menurut Kepala Dinkop UMKM Jateng, Ema Rahmawati, banyak hal yang masih perlu diperbaiki.

Baik dari sisi kualitas produk, kemasan, branding, teknik pemasaran, dan bahan baku.

Terkadang ada konsumen yang merasa belum puas atau lega ketika tidak melihat dan menyentuh produknya secara langsung. Sehingga semua produk UKM yang masuk ke digital harus benar-benar berkualitas.

Tujuannya, tentu supaya konsumen tidak merasa kecewa dan puas ketika barang sudah diterima.

"Terkait dengan branding, contoh paling dekat ketika membuka Galeri UKM di Bandara beberapa produk sangat laku, namun begitu barang habis pelaku UKM lama sekali mengirim produknya lagi. Maka, branding utama adalah sikap dan perilaku UKM sendiri sebagai penyedia barang apakah sudah bisa memenuhi harapan pelanggan atau belum, baru setelah itu branding produk," ungkap Ema, pada tribunjateng.com, Sabtu (23/3/2019).

Ema menjelaskan, ketidaksiapan lain adalah ketika pelaku UMKM tidak mampu memotret produk dengan baik, bagaimana cara menawarkan, dan lain-lain yang memang membutuhkan pelatihan.

Maka dari itu, pihaknya sedang merancang bersama rekan-rekan penggerak digital untuk melatih pelaku UMKM masuk di era digital.

Berbicara mengenai Industri 4.O ketika masuk ke dalam industri digital, maka semua rekan-rekan pelaku UMKM wajib banyak belajar supaya memahami bagaimana cara kerjanya.

Berdasarkan pengalaman, pada saat memperkenalkan "Sadewa Market", pihaknya melatih sekitar dua ribu pelaku UMKM untuk masuk era digital.

Pihaknya memprediksi rekan-rekan yang diundang paling tidak sudah paham tentang internet, bagaimana menggunakan laptop, PC, dan android, dengan estimasi waktu pendampingan 20 menit. Namun pada prakteknya, satu orang minimal satu jam.

"Jadi kami mengundang 20 orang, minimal mereka baru memahami internet dan dari jumlah dua ribu yang dilatih digital hanya 500 yang mengupload barang. Sedangkan dari 500 tersebut yang benar-benar aktif berjualan di medsos hanya 150 orang. Hal ini PR kita semua dan sangat berat, bagaimana kita mendorong teman-teman UKM untuk masuk ke era digital seperti sekarang," terangnya.

Selain itu, Dinas Koperasi Provinsi Jateng tidak hanya pameran yang konvensional, tapi juga menyediakan Galeri UKM di Bandara yang memang memiliki banyak persyaratan.

Beberapa syarat tersebut yaitu kemasan harus bagus atau menarik, dan sesuatu yang unik sekaligus tidak mudah ditemukan di pasaran.

Tidak kalah penting produk dengan label halal, ada komitmen dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng, mulai tahun depan harus memfasilitasi 500 produk halal per tahun.

"Jadi selama empat tahun akan ada dua ribu produk halal, maka kami persilahkan bagi teman-teman yang produk nya belum ada label halal bisa mendaftar pada kami," pungkasnya. (dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved