Breaking News:

Ketua Umum GP Ansor : Kita Putihkan Indonesia Demi Tegaknya NKRI

Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta seluruh kader Ansor dan Banser turut membantu aparat menciptakan rasa aman di tengah masyarakat

Editor: m nur huda
Istimewa
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat hadir pada  acara Harlah NU ke-96 dan Haul Akbar 113 KH. R. Abdul Fatah, di Alun-alun Wonosobo, Rabu (27/3/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta seluruh kader Ansor dan Banser turut membantu aparat menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilu 17 April mendatang.

Menurut Gus Yaqut, melalui keterangan persnya pada Tribunjateng.com, dalam 10- 20 hari ke depan diperkirakan bakal mendapati banyak tantangan dan gangguan, dari pihak yang mencoba mengintimidasi, menakut-nakuti masyarakat, agar nanti mereka tidak datang ke TPS agar golput.

"Tugas kita sebagai Banser ikut membantu aparat menjaga TPS memberi rasa aman pada masyarakat," tandasnya di depan ribuan Banser dalam acara Harlah NU ke-96 dan Haul Akbar 113 KH. R. Abdul Fatah, di Alun-alun Wonosobo.

"Bagi yang tidak bertugas, PP GP Ansor beberapa hari yang lalu mendeklarasi Rabu Putih. Pada tanggal 17 April 2019 untuk menghormati Kiai kita, sahabat-sahabat yang tidak bertugas mari datang ke TPS memakai baju putih yang kita miliki, sarung putih. Kita putihkan semua, putihkan Wonosobo, putihkan Jateng, putihkan Indonesia. Ini penghormatan pada Kiai kita," tandas Gus Yaqut.

Dalam kesempatan yang dihadiri KH Maruf Amin dan jajaran pimpinan GP Ansor, Gus Yaqut juga mengatakan, Ansor dan Banser harus memiliki 4 karakter kepemudaan.

Ansor dan Banser, kata dia, harus berwatak muda, tidak boleh loyo, tidak boleh mundur apa pun tantangan yang ada di depan, dan harus punya cita-cita besar.

"Cita-cita besar itu adalah menyaksikan NKRI ini menjadi lebih baik, maju dan sejahtera sebagai warisan anak-anak cucu kita. Cita-cita besar itu memerlukan syarat. Apa itu? Tidak boleh jadi pengecut. Pengecut itu kader yang mau menjual cita-citanya untuk kepentingan sesaat," jelasnya.

Karakter kedua, sebut Gus Yaqut, adalah karakter keislaman, yaitu memegang teguh Aswaja Anahdliyah, bukan Islam yang sedikit-sedikit menganggap musuh sesama muslim.

Karena, lanjut dia, di luar sana ada kelompok-kelompok Islam yang mengklaim paling benar, di mana yang tidak sama salah, kafir, thoghut.

"Kita tidak boleh diam, karena mengafirkan, menyalahkan itu hanya sasaran antara. Finalnya adalah mengganti sistem negara ini," kata seru Gus Yaqut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved