OJK Ingatkan Fintech soal Naiknya NPF

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan fintech peer to peer lending cukup pesat, dengan total pinjaman outstanding

OJK Ingatkan Fintech soal Naiknya NPF
shutterstock.com
Fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan fintech peer to peer lending cukup pesat, dengan total pinjaman outstanding baik yang sudah lunas maupun belum mencapai Rp 7,05 triliun per akhir Februari 2019, naik 600 persen yoy.

Namun, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK, Yohannes Santoso mengatakan, peningkatan penyaluran kredit itu dibarengi juga peningkatan kredit macet atau non performing financing (NPF) menjadi 3,18 persen, sementara kredit yang kurang lancar sebesar 3,17 persen.

Sehingga, menurut dia, penyelenggara fintech P2P lending harus mewaspadai rasio NPF yang terus meningkat itu. "Kalau diparalelkan dengan bank, jumlah keduanya 6,35 persen (NPF dan kredit kurang lancar-Red), cukup tinggi dibandingkan dengan bank," ujarnya, di Jakarta, kamis (28/3).

Per Februari 2019, NPL atau kredit macet perbankan tercatat sebesar 2,59 persen dengan NPL nett sebesar 1,17 persen.

Santoso menjelaskan, tingginya rasio kredit macet fintech disebabkan tingginya risiko penyaluran kredit melalui platform pinjaman online itu, meski nominal kredit yang disalurkan lebih rendah dari perbankan.

Pada Oktober 2018 lalu, rasio kredit macet fintech peer to peer lending masih di kisaran 1 persen. Besarnya lonjakan rasio kredit macet disebabkan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) belum memiliki batasan wajar tingkat NPF layaknya perbankan. (kompas.com)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved