Fintech P2P Lending Upayakan Tekan Kredit Bermasalah

ndustri financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending berupaya menekan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL)

shutterstock.com
Fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Industri financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending berupaya menekan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang terus tumbuh pesat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada Februari 2019 rasio pinjaman bermasalah fintech lebih dari 90 hari sebesar 3,18 persen, sementara rasio pinjaman kurang lancar dari 30-90 hari sebesar 3,17 persen.
Jika dijumlahkan, total NPL itu menjadi 6,35 persen, meningkat tajam dibandingkan dengan posisi akhir 2018 lalu sebesra 1 persen.

Kendati demikan beberapa pelaku usaha fintech P2P lending mengaku mampu menekan NPL. PT Investree Radhika Jaya, misalnya, masih mampu menekan NPL di bawah 0,5 persen.

Co-Founder dan CEO Investree, Adrian Gunadi menyatakan, hingga pekan pertama Maret 2019 pihaknya sudah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 2,1 triliun. Sepanjang 2019, ia menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar Rp 2,5 triliun.

"Menurut kami pertumbuhan tahun ini bisa mencapai Rp 2,5 triliun. NPL sekarang masih nol koma sekian persen. Kami main lebih aman, karena menggunakan model supply chain," jelasnya.

Adrian menuturkan, dari sisi peminjam atau borrower, Investree menyalurkan 80 persen ke supply chain dan sisanya ke pada peminjam ritel yang merupakan pelaku UMKM dan bermitra dengan e-commerce seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Lazada.

Minimalkan risiko

Satu cara untuk meminimalisir risiko adalah dengan menggunakan analisis, seleksi, dan persetujuan berdasarkan sistem credit scoring.

"Setelah dana pemberi pinjaman dicairkan kepada peminjam, Investree juga akan melakukan pengawasan untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan terhadap dana yang diberikan," jelasnya.

Begitu pun dengan PT Lunaria Annua Teknologi sebagai pemegang merek Koinworks yang pada akhir 2018 lalu mencatatkan NPL di posisi 0,44 persen, dengan total pinjaman Rp 700 miliar.

"NPL di Februari belum ada pergerakan yang berarti," ujar Chief Executive Officer dan Co-Founder Koinworks Benedicto Haryono.

Adapun, Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan fintech peer to peer lending cukup pesat, dengan total pinjaman outstanding baik yang sudah lunas maupun belum mencapai Rp 7,05 triliun per akhir Februari 2019, naik 600 persen yoy.

Meski demikian, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK, Yohannes Santoso mengatakan, peningkatan penyaluran kredit itu dibarengi juga peningkatan NPL total yang mencapai 6,35 persen.

"Penyelenggara fintech P2P lending harus mewaspadai rasio NPL yang terus meningkat, jauh di atas NPL perbankan yang tercatat per Februari 2019 sebesar 2,59 persen, dengan NPL nett sebesar 1,17 persen," tuturnya.

Santoso menjelaskan, tingginya rasio kredit macet fintech disebabkan tingginya risiko penyaluran kredit melalui platform online itu, meski nominal kredit yang disalurkan lebih rendah dari perbankan.

"Pada Oktober 2018 lalu, rasio kredit macet fintech P2P lending masih di kisaran 1 persen. Besarnya lonjakan NPL itu karena AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) belum memiliki batasan wajar tingkat NPF layaknya perbankan," paparnya. (Kontan/Maizal Walfajri)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved