Jumat, 15 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI Woro Seto: Gerakan Indonesia Tanpa Feminis, Maaf Kalian Kaum Pesimis

Gerakan ‘Indonesia Tanpa Feminis’ yang tidak mengedukasi justru menyebar doktrin pesimis dan tekesan pasrah.

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
tribunjateng
Opini WA Woro Seto 

Oleh Woro Seto, Founder Gerakan Ramah Perempuan, IG: @ramahperempuan

DARI Judul di atas, saya sudah memperjelas sikap saya tentang gerakan ‘Indonesia Tanpa Feminis’. Tanggal 17 Maret 2019, sebuah akun Instagram @gerakantanpafeminis mendadak muncul di linimasa. Foto pertama yang diposting akun tersebut hanya sebuah logo gerakan mereka dan sebuah kalimat bertuliskan ‘Indonesia Tanpa Feminis’. Admin akun tersebut tidak memberikan caption apapun. Namun netizen yang melihat postingan tersebut langsung heboh dan berekasi. Hal tersebut dilihat dari 300 komentar bertengger di postingan tersebut.

Selang beberapa hari akun @gerakantanpafeminis kemudian mulai mengunggah sebuah postingan, alih-alih mengedukasi, justru membuat saya geli. Dalam postingan tersebut, tampak seorang perempuan berjilbab dan sebuah kalimat bertuliskan: “Apakah tubuhku adalah milikku? Aku adalah mahluk yang diciptakan Allah, jadi apakah diriku adalah milikku? Jadi tubuhkan bukan milikku, tubuhku milik Allah”.

Duuuuh, saya kok gregetan melihat postingan seperti itu. Bukan tubuh perempuan saja yang milik Allah, tumbuhan, hewan, tubuh laki-laki, semua yang ada di muka bumi ini milik Allah. Kalau udah milik Allah apakah kita gak perlu merawat dan menjaga? Karena semua yang ada di semesta ini milik Allah, berarti tugas kita menjaga dan merawat sebaik mungkin.

 Manusia baik laki-laki maupun perempuan itu diciptakan gusti Allah buat menjadi pemimpin di muka bumi, mengapa tidak mahluk lainnya selain manusia? Ya karena manusia itu diberi akal pikiran dan hati yang bisa digunakan untuk menjaga bumi. Jangan-jangan admin @Indonesiatanpafeminis tidak tahu soal tujuan diciptakannya manusia? Saya tanya lho ya,  kalau tersinggung ya Alhamdulillah berarti besok harus belajar lagi.

Rupanya, gerakan @Indonesiatanpafeminis tak berhenti menyebar wacana-wacana pembodohan. Akun @gerakantanpafeminis menulis “Feminisme ingin memanusiakan manusia, yang terjadi malah seperti menuhankan manusia.” Astaga, kok ada pemikiran cetek begini? 1000 followers akun tersebut kok ya percaya-percaya aja to? Mbok ngaji dulu.

Begini lho sis,  yang kalian maksud menuhankan manusia itu yang gimana? Jangan-jangan admin akungerakan @Indonesiatanpafeminis nggak ngerti soal feminisme? Aku jelasin nih ya, Feminis itu sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, pendidikan, ekonomi, budaya, menghapuskan budaya patriarki, diskriminasidi ruang pribadi dan ruang publik. Konsep feminisme juga tidak melemahkan laki-laki dan tidak membeci laki-laki.

Bahkan gerakan feminis itu justru juga membantu laki-laki, karena  karena gerakan feminis berupaya untuk memutus standar-standar yang diberikan masyarakat pada perempuan dan laki-laki, mengubah peran-peran gender, norma seksual dan praktek-praktek diskriminasi. Saya kasih tahu ya mimin @indonesitanpafeminis, bahwa gerakan feminisme itu berkomitmen untuk mengatasi masalah-masalah sehari-hari seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, obyektifikasi seksual. Sehingga laki-laki diajarkan juga untuk menghormati perempuan, suami berbagi peran di rumah, seorang ayah ikut terlibat dalam membesarkan-anak-anak.

Sudah clear kan? Kurang mulia apa gerakan feminis itu? Bahkan ini juga anjuran agama lho, karena bepegang teguh akan sebuah keadilan.

Sekali lagi, feminisme adalah ideologi bukan keyakinan, sehingga tidak mungkin feminisme menuhankan manusia, kita hanya berupaya menempatkan manusia seperti manusia, biar tidak menjadi umat yang dzalim.

Lagi-lagi, pada tanggal 23 Maret 2019, akun @indonesitanpafeminis kembali mengunggah sebuah postingan yang berisi peran Fatimah Al-Fihra, Khadijah, Aisyah. Kemudian menanyakan feminis mau apa? Membaca  pertanyaan itu aku terkejut terheran-heran. Padahal yang mereka sebutkan itu adalah para feminis. Tiga tokoh tersebut mampu berkarya di ruang publik, mampu menggunakan segala pikirannya untuk membuat peradaban manusia lebih baik. Fatimah Al-Fihra membuat universitas agar manusia lebih cerdas, Khadijah mampu memutus rantai kemiskinan, Aisyah mampu memberikan pencerahan melalui hadist-hadist yang ditulisnya. Mereka itu feminis lho ukhti, masak kalian gak mau seperti tiga tokoh itu?

Sudah-sudah, saya tidak ingin makin emosi dan berujung misuhi, tapi kok ada postingan yang bikin saya darah tinggi lagi? Jadi begini, akun @indonesitanpafeminis membuat sebuah kampanye dengan foto seorang perempuan membawa poster yang betuliskan “Indonesia tidak butuh feminisme”.

Dalam postingan tersebut menuliskan caption: "Mereka bilang, mereka setuju dengan konsep feminisme karena wanita butuh kesetaraan. Padahal dalam Islam, wanita tak perlu setara karena sejatinya wanita sungguh dimuliakan. Ia dijaga oleh ayahnya , dijaga oleh saudara laki-lakinya dan dijaga oleh suaminya. Jika hatimu penuh cahaya, pasti mudah bagimu menerima sebuah kebenaran, coba berbisik ke hatimu, apakah yang kau cari selama ini adalah kebenaran? Atau hanya pembenaran?"

Membaca caption tersebut saya marah betul. Admin @Indonesiatanpafeminis itu ngajinya dimana sih? Memang benar agama Islam itu begitu memuliakan perempuan, tapi prakteknya  manusia sekarang tidak bisa memuliakan perempuan lho, itu karena kajian tentang pemuliaan perempuan belum dipahami oleh manusia. Nah di sini kami para feminis berusaha menjunjung kemuliaan perempuan dan menjunjung kemuliaan laki-laki karena bisa memuliakan perempuan. Semua itu butuh perjuangan ukh, tidak bisa sekejap mata terjadi. Lantas perjuangannya dengan apa? Ya dengan mengedukasi, ikut menyuarakan ketidakadilan yang dialami perempuan, memberi pendampingan korban kekerasan seksual dan upaya-upaya yang lain secara masif. Enggak seperti mimin @indonesiatanpafeminis, yang cuma menyebar pemahaman sesat dan membentuk perempuan jadi pesimis.

Memang sih, dalam Islam referensi manusia yang paling ideal adalah Rosulullah Muhammad SAW, tapi saat ini  banyak manusia yang tidak mencontoh kehidupan nabi secara kaffah.   Masikah manusia memuliakan perempuan seperti yang nabi Muhammad lakukan? Memuliakan perempuan berarti memberikan ruang perempuan untuk berkembang secara kecerdasan, ketrampilan, memberikan kesempatan perempuan untuk lebih bermanfaat untuk orang banyak, mempersilakan perempuan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Begitu lho ukh, bukan malah membatasi, menakut-nakuti dan melarang-larang perempuan untuk berekspresi.

Ketika admin @Indonesiatanpafeminis menulis bahwa perempuan dijaga oleh ayahnya, dijaga saudara laki-lakinya dan di jaga suaminya, hamok sering-sering baca berita.

Aku beri contoh ya. Kisah perempuan berinsial AG misalnya, gadis berusia 18 tahun menjadi korban pemerkosaan dari ayah, kakak, dan adik kandungnya sendiri sejak satu tahun terakhir. Kejadian tersebut terjadi di Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.Ia diperkosa selama satu tahun oleh ayahnya JM (44), kakak SA (23) dan adiknya TG (15) secara bergiliran. Berdasarkan hasil pemeriksaan, JM mengaku lima kali mencabuli AG, kemudian SA sebanyak 120 kali, dan YG mengaku 40 kali. Diketahui AG,  tinggal dengan sang nenek, lantaran ibu kandungnya meninggal dunia, lalu dijemput oleh ayahnya untuk tinggal bersamanya pada awal 2018 lalu.17 hari pasca tinggal bersama sang ayah, terungkap bahwa AG kerap dijadikan pemuas nafsu bagi saudara dan ayah kandungnya itu.Cerita yang paling tragis, korban mengatakan dirinya bahkan pernah diperkosa hingga lima kali dalam satu hari. Korban kembali mengungkapkan dirinya juga tak diberi makan oleh keluarganya.Meskipun, ia mendapat tugas untuk memasak, namun korban terkadang tidak mendapatkan makan. Itu baru kisah AG lho, masih banyak kasus yang lain yang bikin ngelus dada.

Lantas, kemuliaan perempuan yang seperti apa yang diinginkan pegiat @Indonesiatanpafemis jika tanpa usaha dan hanya terkesan pasrah saja? Sekali lagi ukh, banyak kehidupan ‘keras’ yang harus dialami perempuan. Misalnya kasus perempuan yang harus bekerja menghidupi keluarganya, kasus perempuan yang dipaksa nikah dini, kasus perempuan tak bisa bersekolah dan kasus-kasus lainnya.

Terakhir saya mau tanya dengan pertanyaan serius, kenapa pegiat @indonesiatanpafeminis kok alergi sekali dengan feminisme? Apa gara-gara kata feminis diambil dari bahasa latin bukan bahasa arab? kalau begitu istilah femisme diubah aja dengan  bahasa arab ‘alharakah nissaiyah’  biar keliatan lebih religius dan tidak mengubah subtansi gerakan feminisme itu sendiri. Bereskan?

Coba deh, pegiat @indonesiatanpafeminis lebih banyak piknik dan membaca berita, banyak lho kasus-kasus diskriminasi yang dialami perempuan. Misalnya, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dia bekerja 24 jam di rumah majikan, tidak diatur waktu istirahat, tidak diatur jam bekerja, tidak memiliki pekerjaan yang jelas bahkan disuruh ini -itu tanpa dilindung Undang-undang ketenagakerjaan.

Menurut data  Badan Pusat Statistik (BPS) upah buruh perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Rata-rata upah buruh pria di 2018 sebesar Rp 3,6 juta sementara wanita Rp 2,4 juta. Hal-hal begini harus diperjuangkan. Kenapa? karena perempuan seharusnya bisa menerima upah seperti laki-laki, lha wong sama-sama bekerja. Perempuan yang digaji rendah itu  terpaksa karena tidak ada pilihan lain.

Mungkin pegiat @Indonesiatanpafeminis tidak pernah merasakan susahnya mencari kerja, susahnya mencari uang, bisa beli-beli makan enak dan fashion terbaru, tapi mbok ya mikirin kondisi perempuan yang lain yang tidak seberuntung kalian.

Ayolah, kita sama-sama berjuang untuk kehidupan perempuan yang lebih baik, biar sama-sama hidup bahagia, sejahtera, dan syukur-syukur bisa masuk surga bersama. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved