Pedagang Pasar Darurat Sorogenen Pekalongan Merugi Karena Makin Sepi Pembeli

Sudah setahun lebih ini Waliem (65) berdagang di pasar darurat Sorogenen Kota Pekalongan pasca Pasar Banjarsari terbakar Februari 2018.

Pedagang Pasar Darurat Sorogenen Pekalongan Merugi Karena Makin Sepi Pembeli
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Kondisi pedagang pasar darurat Sorogenen Kota Pekalongan yang menanti kehadiran pembeli, Jumat (5/4/2019). 

TRUBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Sudah setahun lebih ini Waliem (65) berdagang di pasar darurat Sorogenen Kota Pekalongan.

Dia bersama puluhan pedagang lainnya terpaksa pindah ke pasar darurat karena tempat berdagangnya di Pasar Banjarsari terbakar Februari 2018.

Waliem hanya terlihat termenung menunggu pembeli, di tengah tumpukan pisang yang mulai membusuk.

Wanita 65 tahun tersebut semakin mengerutkan dahi, karena pasar darurat Sorogenen makin sepi pengunjung.

"Kini pasar mulai sepi bahkan ditinggalkan beberapa pedagang. Dahulu, waktu berdagang di Pasar Banjarsari sehari bisa menjual sekarung pisang. Tetapi sekarang, sepekan pisang tidak habis terjual," katanya, Jumat (5/4/2019).

Wanita yang sudah berdagang pisang puluhan tahun itu sangat berharap bisa pindah ke tempat berdagang yang lebih layak, seperti di Pasar Banjarsari seperti dahulu kala.

"Semoga saja Pasar Banjarsari bisa cepat dibangun. Agar kami bisa berdagang seperti dahulu lagi. Karena satu tahun lebih berdagang di sini hanya beradu nasib dan sangat sepi pembeli," paparnya.

Subagyo (69) pedagang lainnya juga hanya bisa pasrah dengan keadaan pasar darurat yang mulai ditinggalkan pengunjung.

"Saya mendapat kabar kalau Pasar Banjarsari akan dibangun setelah pemilu. Tapi kebenarannya kami belum tahu," jelasnya.

Pria yang sehari-hari berdagang sayur dan buah tersebut hanya ingin mencari nafkah seperti dahulu.

"Sebelum terbakar, Pasar Banjarsari sangat ramai. Walaupun banyak pedagang, pembeli selalu datang tidak seperti di pasar darurat ini," imbuhnya.

Subagyo mengharapkan adanya solusi untuk para pedagang yang menempati pasar darurat Sorogenen, agar pendapatannya kembali seperti saat berdagang di Pasar Banjarsari.

"Kalau Pasar Banjarsari sudah dibangun, saya pasti pindah ke sana lagi. Namun karena simpang-siur kami hanya bisa menunggu. Kami ini orang kecil yang hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah," tambahnya. (Budi Susanto)

Penulis: budi susanto
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved