RUPAKOTA: Thanks Banget, Semarang

RUPAKOTA adalah rubrik yang mengisahkan pengalaman warga dengan kotanya. Siapa pun bisa menulis di rubrik ini, dengan bahasa yang ringan.

Penulis: cecep burdansyah | Editor: abduh imanulhaq
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Cecep Burdansyah, wartawan Tribun Jateng 

(RUPAKOTA adalah rubrik yang mengisahkan pengalaman warga dengan kotanya. Siapa pun bisa menulis di rubrik ini dengan bahasa yang ringan)

Oleh: Cecep Burdansyah

DUA tahun berada di Kota Semarang, boleh dibilang saya belum menguasai pelosok Semarang. Ke Utara saya baru tahu sampai Pelabuhan Tanjung Mas, ke barat Mangkang arah Kendal, ke selatan Gunungpati arah Ungaran. Ke Timur arah Demak.

Berkendara sendirian baru berani setelah enam bulan berada di Kota Semarang. Itu pun sempat nyasar. Mau ke Simpanglima, malah tersesat ke Gombel. Padahal posisi start saya di Jalan Ahmad Yani.

"Ahmad Yani ke Simpanglima kan dekat?" kata teman kantor menertawakan. Saya cuma menunduk.

Ada yang lebih parah. Seorang kawan dari Jakarta minta diantar ke Candi Gedung Songo. Ah, kesempatan, saya juga belum tahu. Sebelum berangkat, sarapan soto dulu di Simpang Lima. Kemudian ngegas dengan percaya diri.

Tahu-tahu sampai di Pelabuhan Tanjung Mas. Padahal, Candi Gedung Songo berada di Bandungan, arah selatan Kota Semarang. Kawan saya ngomel setengah marah.

"Lho, sampeyan ini piye? Gak tahu tapi gak nanya?" omelnya. Saya hanya tertawa malu sambil banting setir putar balik.

Itu soal biasa. Tidak perlu malu. Bagi orang baru yang berada di sebuah kota, jangankan lokasi tujuan, arah mata angin saja bingung. Padahal telepon genggam sudah menyediakan fasilitas untuk membantu.

Ketakjuban saya dengan Kota Lumpia ini, jalannya yang lebar-lebar. Jelas memanjakan pengendara. Saya yang terbiasa berkendara dengan merayap di Kota Bandung yang supermacet, di Kota Semarang jadi ikut-ikutan kenceng nginjak gas. Ikut irama. Sebab kalau merayap, di belakang pasti nyaring bunyi klakson.

Bila pengendara dimanjakan, pejalan kaki cukup repot kalau mau nyebrang. Harus bersabar menunggu lengang. Di Jalan Menteri Supeno, depan kantor saya, tiap nyebrang saya harus menunggu sampai paling satu menitan.

Mobil dan motor melesat dari arah Bang Jo (istilah untuk lampu setopan) Kiai Saleh. Pengendara motor merasa disediakan sirkuit balapan. Miris melihatnya.

"Kawan kita dulu pernah keserempet bahunya, padahal posisi masih di pinggir jalan," kata rekan sekantor.
Begitulah kota besar. Di mana pun.

*

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved